Tradisi Nyadran Warisan Luhur Sidoarjo

tradisi nyadran sidoarjo

0 214

Gwslur_id – Dulur Darjo pernah denger gak tradisi Nyadran yang dilakukan di Desa Balongdowo dan Bluru Kidul Sidoarjo? Warga desa setempat sampai sekarang pun tetap berusaha menjaga warisan budaya luhur daerahnya, terutama untuk melindungi khazanah seni yang dimiliki Sidoarjo. Wah bisa jadi potensi wisata yang menarik wisatawan lokal ataupun mancanegara lhoo, jika terus dikembangkan menjadi lebih apik dan menarik.

Tradisi nyadran Sidoarjo menurut bahasa jawa sendiri, pada awalnya hanya berupa kenduri yang dilakukan di Makam Dewi Sekardadu. FYI nih guys, dilansir dari laman Wikipedia, Dewi Sekardadu adalah Putri Kerajaan Blambangan, penguasa Kerajaan Majapahit. Dewi Sekardadu kemudian menikah dengan Maulana Ishaq seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dan Raden Paku (Sunan Giri) merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq. Menurut cerita sejarah, kelahirannya Raden Paku dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Maka Dewi Sekardadu dipaksa ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak yang baru dilahirkannya itu. Lalu, Dewi Sekardadu dengan rela menghanyutkan anaknya itu ke laut sekarang ini.

Versi lain mengisahkan bahwa Raja Blambangan kurang setuju dengan pernikahan Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, akhirnya Raja Blambangan murka. Ia membuang Raden Paku ke laut. Kemudian Dewi Sekardadu pun mengejar anaknya. Namun, Dewi Sekardadu meninggal dan terbawa arus ke Sidoarjo. Jenazahnya ditemukan di selat Madura (saat ini menjadi tempat nelayan Balongdowo mencari Kupang). Dewi Sekardadu pun pada akhirnya di Makamkan di Ketingan atau Kepetingan yang pada setiap bulan sya’ban atau ruwah digelar upacara Nyadran dsn ketingan disana.

Tujuan Tradisi Nyadran Sidoarjo

Tujuan Tradisi Nyadran merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Desa Balongdowo ataupun Bluru Kidul atas sumber daya yang mereka peroleh dari hasil laut. Saat ini nyadran sidoarjo makin semarak berkat inisiatif para pemuda-pemudi untuk mengemas tradisi nyadran menjadi lebih spektakuler lagi, diantaranya seperti menambahkan aksen hiasan pada perahu sebagai arak-arakan, terkadang pula dengan diiringi alunan musik sound system tidak ada hentinya berjoget menikmati alunan musik. Lalu bagaimana ya, korelasi tradisi budaya ini dengan Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Sidoarjo??

Tradisi Nyadran menurut Islam dan budaya memiliki relasi yang tak terpisahkan, dalam Islam sendiri ada nilai universal dan absolut sepanjang zaman. Namun demikian, Islam sebagai dogma tidak kaku dalam menghadapi zaman dan perubahannya. Islam selalu memunculkan dirinya dalam bentuk yang luwes, ketika menghadapi masyarakat yang dijumpainya dengan beraneka ragam budaya, adat kebiasaan atau tradisi. Sebagai sebuah kenyatan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol.

Sedangkan pandangan masyarakat Balongdowo sendiri memaknai tradisi nyadran sebagai ungkapan refleksi sosial-keagamaan yaitu sebagai wujud syukur. Tata cara tradisi nyadran ini juga dilakukan dengan menziarahi serta melakukan pengajian di makam Dewi Sekardadu. Ritual ini dipahami masyarakat sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Tradisi nyadran di Desa Balongdowo dilakukan pada bulan menjelang Ramadhan yaitu Sya’ban atau Ruwah. Nyadran Sidoarjo dengan ziarah kubur merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan dalam ritus dan objeknya. Makna tradisi nyadran bagi masyarakat Balongdowo dan Bluru Kidul merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Mahakuasa atas segalanya.

Nah itu tadi sedikit kilas info tentang tradisi nyadran yang merupakan potensi wisata religi Sidoarjo. Namun sayangnya, tradisi ini pun kurang banyak dikenal oleh masyarakat terutama masyarakat Sidoarjo sendiri. Sosialisasi berkala berarti perlu dilakukan nih, untuk menjaga kelestarian budaya asli Sidoarjo.

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.