9 Tradisi Indonesia Yang Mulai Pudar

tradisi Indonesia yang mulai pudar

0 155

Sebelumnya GWSLUR telah membahas alat musik tradisional Indonesia yang wajib kita pahami, sekarang kita lanjut ke tradisi Indonesia yang mulai pudar. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali keunikannya. Beragam daerah tentu memiliki ciri khasnya sendiri-diri. Termasuk pada keragaman tradisi di Indonesia yang telah di jalankan sejak lama. Beberapa masyarakat mungkin menjalankan tradisi karena memang sudah turun-temurun. Namun, jika tradisi yang ada tidak dijalankan maka bisa jadi semakin pudar. Tentu, hal ini cukup mengherankan dan mengkhawatirkan. Untuk itu, artikel ini akan mengulas lengkap 9 tradisi Indonesia yang mulai pudar.

Tradisi tentu memiliki tujuan masing-masing dalam pelaksanaannya. Di era modern ini, beberapa hal yang berkaitan dengan tradisi memang menjadi berkurang. Masyarakat menjadi kurang tertarik akan tradisi yang akan berlangsung. Terlebih, perpindahan masyarakat ke daerah lainnya menjadi beberapa orang asli berkurang. Akibatnya, tradisi yang berjalan menjadi kurang dikenal dan dimengerti. Sementara ada beberapa permainan tradisional yang menjadi favorite di zaman dahulu. Setidaknya, ada 9 tradisi Indonesia yang mulai pudar. Apa saja tradisi tersebut? Kami akan bahas dengan lengkap untuk anda.

9 Tradisi Indonesia yang Mulai Pudar

Beberapa tradisi dibawah ini sudah kurang diminati oleh masyarakat karena beragam faktor. Berikut beberapa tradisi tersebut.

  1. Ngelemang

Ngelemang

Merupakan tradisi dari masyarakat Lampung Barat. Tradisi ini yaitu membuat lemang yang terbuat dari beras ketan untuk kemudian di masak pada seruas bambu. Kemudian, lemang akan di bakar sampai dengan matang. Umumnya, lemang disajikan saat sedang acara pernikahan dan lainnya. Meskipun begitu, tidak jarang banyak masyarakat yang mengkonsumsinya pribadi.

Di daerah lampung, sejak dahulu sudah ada kegiatan ngelemang massal setiap tahunnya. Namun, tradisi ini adalah salah satu tradisi Indonesia yang mulai pudar seiring berkembangnya zaman. Dimana, anak muda kurang menyukai tradisi ini serta banyaknya makanan siap saji. Akibatnya, tradisi tersebut menjadi kurang di minati. Melestarikan tradisi tentu sangat penting agar memiliki nilai keunikan setiap wilayah.

  1. Tradisi Nambang

Tradisi Nambang

Ada yang unik di daerah padang dengan tradisi nambangnya. Jika di lihat secara langsung, arti nambang sendiri lebih merujuk kepada penggalian harta. Uniknya, masyarakat padang memiliki tradisi silaturahmi ke rumah warga serta mengharapkan imbalan. Hal tersebutlah yang kemudian di anggap sebagai kegiatan nambang. Namun, nambang sendiri nampaknya mulai pudar serta kurang diminati oleh anak muda.

Dahulu, masyarakat saling bersilahturahmi kemudian anak akan mendapatkan uang. Berbeda dengan sekarang, pemberian uang sudah jarang dilakukan. Tentu, banyak faktor yang mempengaruhi salah satunya ekonomi. Terlebih,dengan biaya hidup yang semakin meningkat memang cukup menyulitkan. Ditambah, terkadang untuk berbagi saja langsung kepada saudara dirasa sudah cukup.

  1. Menerbangkan Balon Kertas

Menerbangkan Balon Kertas

Tahukah anda bahwa terdapat tradisi unik berupa menerbangkan balon kertas? Tradisi ini berada di wilayah purbalingga. Balon yang diterbangkan bukan seperti umumnya, bahkan sama sekali tidak membutuhkan gas. Selain itu, balon ini juga memiliki ukuran yang cukup besar sehingga harus di pikul bersama-sama agar dapat di angkat untuk penerbangan.

Balon tidak menggunakan gas, melainkan memanfaatkan asap yang penuh agar balon bisa naik. Hasilnya, tentu cukup cantik jika dilihat secara langsung dari bawah. Sayangnya, tradisi ini sudah di larang oleh pemerintah Purbalingga, sehingga merupakan tradisi Indonesia yang mulai pudar. Karena alasan membahayakan lalu lintas penerbangan.

  1. Menyalakan Lampu Batok

Menyalakan Lampu Batok

Saat mendekati lebaran, masyarakat di daerah Mandailing tapanuli selatan akan memasangkan lampu pada halaman rumahnya. Pemasangan lampu ini dilauakn pada malam ke-27 Ramadhan. Uniknya, bukan sembarang lampu yang di pasang melainkan lampu batok. Yaitu terbuat dari batok yang kemudian di lubangi tengahnya serta di susun dan ditempel pada kayu basah.

Setidaknya, pqada setiap rumah akan memasangkan 1 sampai 2 lampu batok. Uniknya, pada malam tersebut anak-anak akan berkeliling kampung menggunakan obor. Jika melihat ada lampu yang mati, maka anak anak akan membantu untuk menyalakannya kembali. Namun, di saat ini tradisi tersebut sudah jarang dilakukan.

  1. Tujuh Sawal

Tujuh Sawal

Tradisi berikutnya yang mulai pudar yaitu perayaan tujuh syawal di Ambon. Tradisi ini dirasa cukup esktrim karena dikenal sebagai ajang pertempuran persenjataan lidi enau. Perayaan ini biasanya di lakukan oleh para pemuda. Tujuanya yaitu untuk menguji khasiat dari minyak mamala.

Tradisi ini berguna untuk peringatan mengenai apa yang telah dilakukan oleh pendahulunya. Terdapat tiga tokoh Islam yang ckup berpengaruh Latului, Iman Tuni serta patembesi. Sayangnya, tradisi ini juga sudah mulai pudar dan tergerus oleh zaman, dimana seharusnya permainan tradisional merupakan puncak kebudayaan yang wajib kita lestarikan.

  1. Memanjangkan Telinga

Memanjangkan Telinga

Pernahkah anda berfikir mengenai memanjangkan telinga? Mungkin hanya ada pada suku Dayak Wehea, Kalimantan. Suku ini memiliki tradisi yang unik berupa memanjangkan telinga, dengan anting-anting serta mentato bagian tangannya. Awalnya, budaya ini memiliki tujuan untuk membedakan status dari pada bangsawan serta budak biasa.

Selain itu, telinga panjang ini juga menunjukan pada umur seseorang. Dalam setiap satu tahun, maka jumah anting yang dipakai juga bertambang. Tradisi ini sudah tidak dipakai lagi. Tentu, banyak faktor yang mempengaruhinya termasuk pada Hak Asasi Manusia. Trdisi ini nampaknya hanya di lakukan oleh suku dayak saja, tentu kini juga sudah mulai pudar.

  1. Kenduri

Kenduri

Bagi sebagai masyarakat, mungkin sudah mengenal tradisi yang satu ini. Kenduri merupakan tradisi yang berkembang di daerah aceh. Tradisi ini berupa hidangan acar kenduri dan banyak di lakukan seperti perkawinan, maupun menghormati tujuh hari orang meninggal. Umumnya, akan di hidangkan makanan dengan acara kenduri agar dapat dinikmati bersama.

Perlahan, tradisi yang satu ini sudah mulai pudar. Karena, masyarakat lebih senang untuk membelikan nasi box dibandingkan membuatnya sendiri. Tentu, jika membuatnya sendiri akan membutuhkan waktu dan tenaga. Namun, tradisi ini masih cukup banyak dipakai pada acara penting terkait keperluan daerah Aceh.

  1. Tradisi Guyub

Tradisi Guyub

Guyub jika di artikan secara langsung maka memiliki arti berupa rukun. Masyarakat betawi, memiliki tradisi saat menjelang lebaran untuk melakukan masak besar secara bersama-sama. Masak inilah yang memberikan guyub atau rukun untuk dapat berbagi tenaga dan kebutuhan satu sama lainnya.

Perlahan, tradisi ini sudah mulai pudar karena masyarakat kurang akan gerakannya. Masyarakat di era sekarang ini lebi menyukai hal praktis dan tidak membutuhkan banyak iaya. Selain itu, perbedaan dalam makanan yang disajikan juga menjadi tantangan tersendiri. Meskipun begitu, masih terdapat beberapa kampung yang menyelengarakannya.

  1. Mapasilaga Tedong

Mapasilaga Tedong

Suku Toraja di Sulawesi Tengah tentu sudah cukup terkenal di masyarakat. Ada salah satu tradisi yang unik berupa mapasilaga tedong. Tradisi ini melibatkan dua ekor kerbau yang kemudian dipertandingkan. Kerbau tersebut akan saling adu untuk kekuatannya dan memperebutkan kemenangan.

Dahulu, tradisi ini diadakan ketika terdapat kematian dari salah seorang suku. Masyarakat zaman dahulu memang banyak peminatnya. Namun, di era sekarang hal tersebut dirasa kurang bermanfaat dan membutuhkan banyak biaya.

Nah, begitulah ulasan lengkap 9 tradisi Indonesia yang mulai pudar. Sebagai masyarakat Indonesia, maka sangat penting agar tetap melestarikan tradisi yang ada. Jangan sampai, keunikan lokal menjadi hilang begitu saja. Semoga bermanfaat !

Leave A Reply

Your email address will not be published.