Tokoh Antagonis Majapahit

Bujang Ganong (Pujangga Anom)

0 0

Bujang Ganong Tokoh antagonis Majapahit, yang dipercaya juga sebagai Demang Ki Ageng Kutu Suryongalam­ yang merupakan tokoh sakti sekaligus cendikia Majapahit. Dia adalah orang yang sangat menentang pernikahan raja majapahit Prabu Brawijaya dengan Dara Pethak karena dia mengetahui bahwa ini hanya intrik politik untuk menghancurkan majapahit dengan memberi upeti “putra dari campa” atau dara pethak (wanita putih).

Pujangga Anom Kethut Suryangalam/ki Ageng Kutu pergi meninggalkan majapahit sebagai bentuk protesnya dan berdiam diri di Ponorogo dengan membentuk seni reog yang berupa seni topeng dan tari tarian berbentuk kepala Singa dengan di “injak” oleh dadak merah yang melambangkan kekuasaan kuat yang hanya dikalahkan oleh seorang putri.

Peringatan Bujang Ganong sebagai Tokoh antagonis Majapahit tentang prediksi penghancuran majapahit benar dan setelah majapahit hancur dia dianggap pemberontak oleh Demak dan diburu sebagai penjahat. Untuk menangkap dan menandingi kesaktian Bujang Ganong didatangkan sosok sakti keturunan majapahit juga yang bernama Bethoro Katong, dikarenakan para wali tidak dapat menandingi kesaktiannya.

Bethara Katong melawan Bujang Ganong

Tejadi peperangan hebat antara Bujang Ganong dan Bethoro Katong, mereka sama-sama kuat dan sama-sama sakti. Bethoro Katong merasa kualahan menandingi kesaktian Bujang Ganong akhirnya dia memakai siasat mendekati anak Bujang Ganong yang bernama Niken Gandhini dengna iming-iming mau dijadikan istrinya Niken diminta mencuri senjata andalan Bujang Ganong berupa Lawe Koro Welang.

Akhirnya merasa terdesak, Bujang Ganong “mukswa” masuk ke dunia sunya ruri yang besok akan datang lagi dengan Sabdo Palon sebagai penuntut tanah jawa Bethara Katong merasa menyesal akhirnya dia mengasingkan diri karena merasa bersalah sudah di manfaatkan oleh para wali. Dia dinobatkan sebagai “bethara” sengan masyarakat ponorogo sebagai pengganti Bujang Ganong tokoh antagonis majapahit.

Sebagai media kritik terhadap raja Majapahit waktu itu, Brawijaya V Bre Kertabumi. Gaya pemerintahan Bre Kertabumi yang seolah didikte oleh permaisurinya, digambarkan dengan seekor burung merak yang bertengger di kepala harimau. Ki Ageng Kutu dalam kritiknya–melalui seni pertunjukkan reyog–membangun karakter Bujangganong dengan segala sifat-sifat keperwiraan yang mengabdi demi tanah air.
Melalui seni pertunjukkan Reyog dan tokoh Bujangganong dengan segala kualitas yang dimilikinya, Ki Ageng Kutu mencoba menyampaikan kebenaran dengan kesederhanaannya sekaligus teladan dengan gerak dan rasa yang konkrit.

Hingga kemudian, Bujang Ganong bukan hanya sekedar sebuah tontonan yang atraktif tapi keteladanannya mengandung tuntunan yang luhur, bahwa kualitas seseorang tidak bisa di ukur dari penampilan fisik semata. Kualitas karakter ini yang membuat Bujangganong memegang peranan penting dan menjadi tokoh sentral dalam dramaturgi seni pertunjukkan Reyog Ponorogo.

Bujang Ganong dengan segala peran dan kualitasnya menawarkan sebuah alternatif perenungan spiritual yang lembut namun dalam. Keteladanan yang pantas diapresiasi, dilestarikan dan di jiwai. Sebuah kearifan budaya lokal yang mencoba bertutur tentang filosofi dan makna kesejatian hidup. Bujang Ganong telah tampil ke depan melompat jauh ke masa depan melebihi jamannya. Ditengah hiruk pikuk cerita fiksi tokoh dan karakter kepahlawanan asing, Bujangganong mencoba menerobos ke pusat jantung modernitas yang cenderung absurd.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.