Tata Rias Pengantin Putri Jenggolo

0 56

Hey dulur Sidoarjo, pada artikel sebelumnya GwsLur telah membahas jajanan tradisional ampyang. Sekarang akan membahas budaya daerah Sidoarjo pada Tata Rias Pengantin Putri Jenggolo. Sudah pada tau kan, bahwa Kabupaten Sidoarjo merupakan Kabupaten yang pernah diduduki oleh Kerajaan Jenggolo dan Kerajaan Dhaha. Pada tahun 1019 hingga tahun 1942 kerajaan Jawa Timur diperintah oleh seorang pangeran Bali yang bernama Airlangga. Pada masa pemerintahan Airlangga keadaan negara tenteram, keamanan terjamin dan negara mengalami kemajuan yang pesat.

Airlangga sendiri memiliki dua orang putera, sehingga pada akhir masa pemerintahannya, beliau mengambil keputusan perlu membagi kerajaan menjadi dua. Pembagian wilayah kerajaan ini terjadi pada tahun 1042 yaitu menjadi kerajaan Dhaha atau yang dikenal dengan Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggolo. Namun pembagian wilayah tersebut dinilai tidak adil oleh kedua putera Airlangga, sehingga timbulah perebutan Bandar antara kerajaan Kediri dan kerajaan Jenggolo, yang kemudian menimbulkan peperangan besar antara kedua kerajaan tersebut, dimana kebudayaannya menuntut kekuasaan atas kerajaan Airlangga.

Tata Rias Pengantin Putri Jenggolo

Di daerah ini pula terdapat salah satu budaya yang patut dilestarikan dan masih dapat dipakai saat ini yaitu tata rias pengantin Jenggolo. Salah seorang perias Kota Delta seolah melahirkan kembali Putri Jenggolo. Beliau sangat yakin bahwa model rias pengantin ini tidak kalah dengan daerah lain. Berawal dari amanah yang didapat Nasuha menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Ahli Rias Pengantin (Harpi) “Melati” Sidoarjo pada tahun (1997-2005). Perias ini pun ingin mengangkat kembali budaya dan adat pengantin khas Sidoarjo yang saat ini dikenal dengan Puteri Jenggolo. Seluruh tata rias, adat, dan busana yang dipakai pengantin diambil dari histori atau sejarah Kerajaan Jenggolo. Nasuha pun dibantu oleh para sesepuh ahli waris Sidoarjo, yaitu Fitri Sutarni, Sudirman, Herminingsih yang menjadi narasumber dan referensi bagi penciptaan tata rias. Kemudian gagasan tersebut ternyata didukung penuh oleh para sesepuh ahli rias Sidoarjo.

Sebenarnya nih lur, nudaya pengantin putri Jenggolo ini sudah ada sejak zaman dahulu kala yang telah melekat pada masyarakat kuno di Sidoarjo. Namun keberadaan budaya tersebut belum memiliki nama. Berlatar belakang dari hal tersebutlah, pada akhirnya gagasan mengangkat rias putri Jenggolo tersebut diusulkan pada Dinas Pariwisata, tepatnya pada tahun 2005 diajukan pada bagian kebudayaan. Saat itu guna memperkuat usulan yang mengangkat cerita sejarah Sidoarjo ini, Nasuha membawa sepasang pengantin yang telah dirias dengan model putri Jenggolo. Pengusulan gagasan tersebut pun juga dihadiri oleh seniman, budayawan, dan bupati yang duduk bersama sehingga lahirlah pengantin Putri jenggolo ini.

Namun Kurangnya sosialialisasi kepada masyarakat tentang tata cara pengantin putri Jenggolo yang kental dengan kebudayaan Sidoarjo, dan anggapan masyarakat Sidoarjo bahwa tata rias pengantin Puteri Jenggolo terlalu sederhana, belum lagi tata acara pernikahan Puteri Jenggolo yang dianggap rumit menyebabkan minat masyarakat sendiri terhadap pengantin Jenggolo Sidoarjo sangatlah sedikit. Dalam waktu tiga sampai empat bulan bahkan satu tahun hanya satu bahkan tidak ada sama sekali masyarakat yang memakai pengantin putri jenggolo Sidoarjo. Duh, sangat disayangkan ya lur, bisa-bisa kebudayaan ini luntur begitu saja termakan zaman.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, pemikiran masyarakat pun berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Dimana masyarakat mulai meninggalkan unsur-unsur estetika, makna, dan filosofi yang dulu dipegang teguh. Saat ini masyarakat lebih menyukai segala yang serba praktis dan instan, dan tidak suka rumit.

Maka dari itu, untuk melestarikan kebudayaan dan mengenalkan kembali kebudayaan asli Sidoarjo, perlu adanya modifikasi dari tata rias pengantin, yaitu dengan menciptakan tata rias pengantin modern tanpa mengurangi unsur kebudayaan pengantin Putri Jenggolo. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat Sidoarjo dapat menggunakan tata rias pengantin Putri Jenggolo dan melestarikan kebudayaan asli Sidoarjo.

 

Banyak minat terhadap pengantin muslim di zaman sekarang, menginspirasi banyak perias untuk menciptakan tata rias pengantin muslim dan gaun pengantin yang sesuai dengan islam. Sekadar informasi aja ya lur, biar kita lebih paham budaya Sidoarjo ini, Modifikasi yang dilakukan pada model pengantin putri Jenggolo dilakukan pada segi tata rias wajah, penataan jilbab dan busana pengantin (sebagai pelengkap), berdasarkan aturan modifikasi yaitu :Modifikasi Tata Rias Pengantin Putri Jenggolo

A. Modifikasi tata rias wajah

Modifikasi tata rias wajah pada pengantin puteri Jenggolo Sidoarjo dapat dilakukan dengan koreksi wajah yang menghasilkan karakter kuat sesuai dengan bentuk wajah pengantin, selain itu pemilihan warna-warna yang harus diperhatikan adalah :

  1. Pemilihan warna foundation dan bedak satu tingkat diatas warna kulit pengantin
  2. Mengganti warna eye shadow sesuai dengan warna busana pengantin.
  3. Alis ditebalkan menggunakan warna coklat dan diberi warna hitam pada ujung alis.
  4. Perona pipi menggunakan tiga warna yaitu warna coklat, merah, dan pink muda glowing.
  5. Lipstik disesuaikan dengan warna busana pengantin

B. Modifikasi Penataan Jilbab

  1. Modifikasi penataan jilbab yang dapat dilakukan pada tata rias pengantin Jenggolo Sidoarjo adalah :
  2. Membentuk jilbab disesuaikan dengan bentuk busana pengantin.
  3. Warna jilbab disesuaikan dengan warna busana pengantin.
  4. Modifikasi aksesoris yang dapat dilakukan pada tata rias pengantin Putri Jenggolo Sidoarjo adalah :
  5. Menambahkan monte-monte pada rangkaian bunga melati
  6. Modifikasi busana pengantin yang dapat dilakukan pada model pengantin Puteri Jenggolo Sidoarjo adalah :
  7. Menggunakan kebaya berwarna hitam dan emas modifikasi muslim
  8. Bentuk warna selop disesuaikan dengan busana pengantin

Nah itu dari GwsLur membahas sekilas pengetahuan sejarah munculnya tata rias putri Jenggolo dan bagaimana modifikasinya agar tetap eksis. Kita pun sebagai masyarakat Sidoarjo tidak boleh memandang sebelah mata khazanah budaya sendiri, harus dicintai ya lur, hehe. Sebab proses penciptaan karya dari budaya tersebut sangatlah sulit dan panjang tidak semudah membalikkan telapak tangan. So, tata rias Pengantin Puteri Jenggolo ini sudah layaknya mendapat perhatian, terus disosialisasikan agar masyarakat darjo lebih mengetahui khazanah budaya yang dimilikinya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.