Tari Remo Munali Fatah: Menuangkan Karakter Pribadi Sang Maestro

0 13

GwsLur_id – Hey dulur Sidoarjo bicara tentang kesenian Indonesia memang tak ada habisnya. Jangankan kesenian seantero negeri, kesenian daerah saja sudah bermacam-macam ragamnya. Apalagi budayanya, contohnya seperti Tata Rias Pengantin Putri Jenggolo. Ragam kesenian yang dapat kita nikamti di daerah-daerah Indonesia ini, diantaranya seni drama, seni karawitan, seni sastra, seni musik, seni tari, contohnya seperti tari remo munali fatah dan masih banyak lagi.

Nah diantara ragam seni ini lur, seni tari merupakan suatu karya seni yang paling kita kenal. Dimana gerak dan kehidupan jiwa menjadi unsur yang sering menyentuh dengan cepatnya. Pada awalnya mungkin diantara kita hanya mengenal unsur geraknya saja, sebab gerak merupakan sasaran pokok yang harus diketahui. Setelah itu kepekaan jiwa atau rasa harus hadir ketika menikmati sebuah tarian. Hal tersebut dilakukan agar dapat menangkap elemen-elemen lainnya yang melengkapi keberlangsungan gerak sebagai sebuah tari. Sebelum berbicara lebih jauh lagi tentang seni tari, sebaiknya kita harus paham dulu, apa sih definisi tari itu?

Seni Tari

Tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak ritmis yang indah (Soedarsono, Djawa dan Bali, Dua pusat perkembangan Drama tari di Indonesia, Gajahmada University Pers). Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tari merupakan ungkapan rasa keindahan melalui gerak tubuh sebagai medium utama, ruang dan ritme.Tari dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur pada awalnya tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan ritual, terutama dengan kebutuhan ritual terutama yang berkaitan dengan penghormatan terhadap bumi serta bentuk permohonan kepada sang pencipta. Dalam perkembangannya tari tadisional menjadi tontonan yang yang bisa memberikan hiburan kepada masyarakat.

Seni tari di Jawa Timur sendiri mulai mengalami perkembangan pesat pada tahun 1960-an. Hal tersebut didasari oleh bergesernya perubahan kebutuhan masyarakat. Perkembangan tersebut salah satunya terdapat pada Tari Remo. Tari Remo merupakan salah satu pertunjukan gerak anggota tubuh dalam bentuk sekaran atau kembangan yang dibentuk oleh badan, tangan, kaki dan kepala bersama irama musik yang sesuai dengan obahing rasa atau bahasa zaman nownya getaran jiwa dari pengreman yaitu penari Remo. Kemuculan Tari Remo mulanya digunakan sebagai awalan kesenian drama ludruk, topeng dan Tayub. Penari Remo kemudian dikenal dengan sebutan Teledhek atau Ledhek untuk menampilkan sajian pembuka.

Seni Tari Remo Munali Fatah

Istilah “Remo” ini berasal dari kata remong yang berarti sampur, jadi Tari Remo merupakan tari yang menggunakan sampur. Pendapat lain menyebutkan bahwa arti kata Remo adalah ngremongerem barang lima”. Barang lima merupakan nilai budaya jawa yang umumnya disebut dalam malima. Dimana memiliki akronim, maling, main, mabuk, madon dan mamad. Berdasar pada istilah makna nama tarinya tersebut, maka Tari Remo lebih banyak mengungkapkan simbol-simbol tentang eksistensi manusia dan pesan moral yang ditujukan sebagai falsafah hidup

Tari Remo sendiri bagi masyarakat Jawa Timur adalah sebuah kesenian tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Transmisi ini didasari karena ide penciptaan Tari Remo bersumber pada identitas lokal masyarakat Jawa Timur. Melalui perspektif sejarah dapat diketahui bahwa cerita Tari Remo merupakan penggambaran seorang Ksatria yang sedang berjuang melawan penjajah Belanda. Penggambaran dan ciri khas tari tersebut membuat Tari Remo menjadi populer dan terkenal di Jawa Timur. Kepopuleran Tari Remo inilah yang pada akhirnya memicu perkembangan struktur bentuk Tari Remo baru. Hingga pada tahun 1975 muncul beragam gaya penampilan Tari Remo yang lebih sederhana dan bervariasi. Variasi gaya tari tersebut sampai dibagi menjadi empat macam, yaitu: gaya Surabaya, Malang, Jombang, dan Madura.

Beberapa seniman Tari Remo memiliki kekuatan individu sebagai sebuah gaya pribadi dalam mengemukakan gagasan, pendapat atau pemikirannya terkait dengan titik tolak asal-usul dan perkembangan Tari Remo. Semua hal tersebut terlahir dan terbangun berdasarkan pengalaman dalam menggeluti pertunjukan Tayub dan Ludruk. Salah satu seniman Tari Remo yang mengembakan Tari Remo berdasarkan gaya dan gagasan pribadinya adalah Cak Munali Fatah. Yang lebih membanggakan adalah sang maestro remo ini, asli dari kota Delta, sangat membanggakan toh lurr!!

Gaya Tari Remo Munali Fatah memiliki ciri khas pada pola gerak yang lebih sederhana dan rapi, mudah diikuti dan dipelajari. Gaya Tari Remo Munali Fatah lebih menekankan pada penampilan yang anteng, gagah (pidhegsa), patah-patah, manteping rasa (kemantapan rasa tari), tidak ngoyo (tidak ngotot), tegas dan tajam. Ketajaman pola gerak gaya Munali Fatah menjadikan Tari Remonya bebeda dari Tari Gaya lainnya. Beliau mencoba mengeksplorasi sikap tari yang lebih tegap dan menengadah, hal tersebut ditujukan untuk menggambarkan  sosok Ksatria yang kuat.

Bila ditilik dari aspek fisik atau elemen koreografinya, penyajian Tari Remo Munali Fatah beserta alur ceritanya mempunyai ungkapan makna yang digunakan sebagai nilai simbolik. Dimana ungkapan ekspresi tersebut berisi tentang gagasan yang sarat akan simbolisasi keprajuritan dan sifat kemanusiaan. Dalam perspektif semiotika Tari Remo gaya Munali Fatah pada setiap unit elemen pertunjukan berisi tanda-tanda. Salah satu penari Remo Munali Fatah  bernama  K.D Sundari menjadi pembahasan lebih lanjut.  Penampilan Sundari saat pentas memiliki kandungan makna yang lebih dominan. Sundari bergerak untuk menyajikan representasi yang divisualkan melalui wujud gerak, busana, make-up dan teknik tari. hal tersebut dibawakan Sundari secara menyeluruh dari awal pementasan hingga akhir, dengan demikian penulis dapat memiliki interperetasi pada setiap tanda yang disajikan.

Busana Tari Remo

Tari Remo Munali Fatah ini,  bukan merupakan tari bergenre drama, sehingga tari ini hanya menyajikan suatu cerita dalam durasi yang tidak lama. Namun kombinasi busana dengan make-up dan gerak tari tetap menjadi komposisi yang saling berkaitan. Busana yang digunakan diantaranya baju panjang merah/putih, iket merah celana, sabuk timang, kace hitam, sabuk (stagen), epek timang, boro-boro, rapek, kain jarit, sampur, sembong, keris, gongseng dan giwang. Busana penari Remo selain menguatkan karaker pada penari, namun juga ragam busana dan pilihan warna tersebut sarat akan makna latar belakang historis cerita. Salah satu unsur kostum yang memiliki makna tanda adalah keris. Makna denotasi dari keris pada kostum Tari Remo adalah sebuah pusaka yang dikenakan pada pinggang sebagai pelengkap busana tari. Adapun makna konotasi busana Tari Remo gaya Munali Fatah adalah sebagai penggambaran kekuatan, kekuasaan, arek Jawa Timur.

Prestasi yang sangat mebanggakan adalah, Remo Munali ini mampu eksis di tengah pakem remo lainnya, bahkan diakui oleh kalangan tari. AM Munardi menyatakan, bahwa tari remo gaya Munali memiliki kepekatan, kekentalan struktur tari yang membentuk gugus pola baku yang mapan dan mantap. Tari Remo Gaya Munali kemudian menjadi materi pelajaran pokok di SMKI, mata kuliah pokok di STKW Surabaya, setelah sebelumnya dikembangkan di IKIP Negeri Surabaya (saat ini Unesa) dan sejumlah perguruan tinggi seni di Indonesia. Luar biasa kan lur,, Tari Remo pun juga pada akhirnya menjadi ukuran kepiawaian seorang penari, sehingga sempat lahir ungkapan, kalau belum bisa Remo belum bisa menari.

Nah itu tadi dulur, sedikit review tentang tari remo Munali Fatah dari GwsLur, semoga makin menambah pengetahuan kita dan lebih menambah kecintaan kita pada kebudayaan daerah darjo.

Leave A Reply

Your email address will not be published.