Seni Tradisional Bantengan

0 10

Hello dulur Sidoarjo, pada artikel sebelumnya GwsLur telah mereview film bernafas dalam kubur, kali ini akan membahas tentang budaya. Berbicara soal budaya bangsa kita seolah gak pernah ada habisnya ya. Maklum toh, negara Indonesia kental dengan pluralismenya atau keanekaragamannya, baik dari segi ras, suku, budaya, agama dan lain sebagainya. Dari keanekaragaman yang dimiliki negeri kita ini, mempelajari budaya bangsa jelas merupakan kewajiban bagi kita para generasi muda bangsa. Contohnya seperti Seni Tradisional Bantengan dari Malang ini.

Jangan sampai nih, kita buta akan budaya sendiri, wah bisa-bisa bakal dicuri Negara lain, kalo si empunya saja tidak pernah peduli akan kelestarian budaya tersebut. Ngomong-ngomong tentang budaya nih ya, dulur Sidoarjo pernah dengar gak sih, salah satu khazanah budaya satu ini, yaitu seni tradisional bantengan? Dulur Sidoarjo ada yang tau gak ya, hehe.. Di google dan sosmed banyak kok yang sudah share foto bantengan beserta video bantengan yang sudah beredar, temen-temen bisa langsung cari disana.

Seni Tradisional Bantengan

Seni Tradisional Bantengan merupakan salah satu seni pertunjukan budaya yang menggabungkan unsur olah kanuragan, sendra tari, musik, dan syair atau mantra yang sangat kental dengan nuansa magis. Wah biasanya nih, kalo ada unsur-unsur magis gini menjadi daya tarik tersendiri untuk menyaksikan suatu seni pertunjukan, betul gak lur? Tidak hanya para penonton, para pemain seni pertunjukan Bantengan pun meyakini bahwa permainan akan menjadi semakin menarik apabila telah masuk dalam tahap “trans”. Tahap trans adalah tahapan ketika pemain pemegang kepala Bantengan menjadi kesurupan arwah leluhur Banteng (Dhanyangan). Lalu bagaimana sih pertunjukan bantengan itu?adakah kaitannya dengan hewan banteng sesuai dengan nama yang diambil untuk pertunjukan ini?

Menurut historis, seni pertunjukan Bantengan telah lahir sejak zaman Kerajaan Singasari. Situs candi Jago yang diyakini sebagai peninggalan kerajaan Singasari di Tumpang, Malang sangat erat kaitannya dengan Pencak Silat. Pada masa kerajaan Ken Arok dahulu, bentuk kesenian bantengan belum seperti saat ini, yaitu berwujud topeng kepala bantengan yang menari. Sedangkan gerakan tari yang dimainkan mengadopsi dari gerakan kembangan pencak silat. Sebab pada mulanya Seni Bantengan merupakan unsur hiburan untuk para pemain pencak silat ketika selesai melakukan latihan rutin.

Nah setiap grup seni tradisional bantengan ini, minimal memiliki dua bantengan seperti halnya satu pasangan yaitu bantengan jantan dan bantengan betina. Meskipun berkembang dari kalangan perguruan pencak silat, saat ini seni bantengan sudah berdiri sendiri sebagai bagian dari seni tradisi. So, tidak semua perguruan pencak silat memiliki grup kesenian bantengan untuk dipertunjukkan setiap selesai berlatih rutin di padepokannya dan begitu pula sebaliknya. Perkembangan kesenian bantengan sendiri, mayoritas berada di masyarakat pedesaan atau wilayah pinggiran kota di daerah lereng pegunungan se-Jawa Timur tepatnya di , Arjuno-Welirang, Bromo-Tengger-Semeru, Kawi dan Raung-Argopuro, dan Anjasmoro.

FYI lur, banyak versi yang menjelaskan asal-usul seni pertunjukan bantengan, kalo versi diatas lebih terpengaruh pada zaman Kerajaan Singasari, kalo salah satu versi lain menjelaskan, pertunjukan kesenian ini berasal dari Pacet atau Claket. Ada pula yang mengatakan dari Kecamatan Jatirejo dan Kecamatan Trawas. Disebutkan bahwa asal usul kesenian bantengan ini bermula dari daerah-daerah ini yang pada saat itu masih terdiri dari hutan liar yang banyak dihuni binatang banteng, sehingga binatang ini menjadi maskot yang akhirnya melahirkan kesenian tersebut.

Tokoh Seni Pertunjukan Bantengan

Asal Usul Seni Tradisional BantenganNah dulur Sidoarjo, salah seorang tokoh seni pertunjukan Bantengan kala itu adalah Mbah Siran dari desa Claket Pacet. Menurut kisah yang berkembang, dahulu Mbah Siran adalah mandor hutan di zaman Belanda. Mbah Siran terkenal sebagai pendekar pencak silat yang atraktif, energik, segar, dan menarik. Menurut cerita, suatu saat Mbah Siran menemukan bangkai banteng yang tergeletak di hutan. Kemudia beliau membawanya pulang, dibersihkan hingga tersisa tengkoraknya saja. Tengkorak banteng yang terkesan gagah dan berwibawa. Hal inilah yang menjadi inspirasi Mbah Siran untuk melengkapi kesenian pencak silat yang tidak menarik lagi. Awalnya tengkorak itulah yang dipakai langsung untuk topeng Bantengan melengkapi seni pencak silat. Dari Mbah Siran itulah Bantengan mulai diperkenalkan ke masyarakat luas sehingga tontonan pencak silat lebih kaya variasi.

Setelah berbagai versi mengenai asal muasal seni pertujukan bantengan ini. Tentu Kota Sidoarjo tidak boleh tinggal diam dalam upaya pelestarian kesenian ini. Hmm, jangan salah lur, di Kota Delta kita ini, tradisi kesenian bantengan ini dihidupkan oleh Grup Putro Taruno Simo Mulyo (PTSM), yaitu sebuah kelompok bantengan di Porong, Sidoarjo. Dilansir dari media Jawa Pos. Grup bantengan ini terbentuk di thaun 2016, namun anggotanya telah mencapai lima puluh orang ketika itu, yaitu terdiri dari anak muda yang peduli terhadap pelestarian budaya daerah tentunya.

Seni pertunjukan bantengan ini, dimainkan oleh dua orang, satu orang bertugas sebagai kaki depan sekaligus pemegang kepala bantengan dan pengontrol tari bantengan. Kemudian satu orang lainnya bertugas sebagai kaki belakang yang juga berperan sebagai ekor bantengan. Sedangkan kostum pertunjukan bantengan biasanya terbuat dari kain hitam dan topeng berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu serta tanduk asli banteng. Dan yang menjadi ciri khusus adalah bantengan ini selalu diiringi oleh sekelompok orang yang memainkan musik khas bantengan dengan alat musik berupa kendang, gong, dan lain sebagainya.

Asal Usul Seni Tradisional Bantengan

Seperti yang sudah dijelasin sebelumnya lur, pada awalnya, seni bantengan merupakan seni pertunjukan yang menggabungkan unsur sendratari, musik, syair, mantra, dan olah kanuragan. Namun PTSM Porong ini memilih jalur lain untuk mengemas seni bantengan Sidoarjo berbeda dengan daerah lainnya. PTSM lebih berfokus pada seni pertunjukan dengan mereduksi hal-hal yang bersifat magis. Seni tari dan unsur koreografinyalah yang menjadi perhatian utama. Sedangkan pencak silat, jaranan hanya menjadi pembuka. Sehingga pertunjukan bantengan Sidoarjo ini tidak menggunakan dukun untuk mendatangkan arwah leluhur.

Dalam membawakan peran sebagai banteng, para pemain bantengan Sidoarjo ini sungguh mirip dengan banteng aslinya lho, terlebih ketika para pemain mengamuk. Wah, jaga jarak ya lur, biar tetap aman gak disruduk, hehe!! Pemain pun mengaku terlebih dulu mempelajari sifat banteng agar dapat memainkan peran dengan sempurna. So, pemain bantengan jelas wajib mempunyai pemahaman sifat dan karakter dari banteng jika ingin pertunjukan sukses ditampilkan.

Meskipun seni pertunjukan bantengan Sidoarjo tidak pernah secara sengaja memanggil roh atau arwah leluhur, namun pemain seni tradisional bantengan dapat dipastikan mengalami kesurupan, sebab mereka benar-benar fokus pada perannya sebagai banteng. Nah lho, pasti seru nih. Jika kesenian ini tetap dilestarikan oleh masyarakat Sidoarjo. Apalagi nih, kesenian bantengan yang kental dengan unsur magis ini pasti menjadi daya tarik tersendiri untuk mendatangkan masyarakat menyaksikan pertunjukan tersebut. So, semangat buat para pejuang kesenian bantengan Sidoarjo, semoga makin berkembang dan kesenian ini makin dikenal oleh khalayak. semoga referensi dari GwsLur ini bermanfaat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.