Selamat Hari Difabel Internasional 3 Desember

0 7

Hai lur, pada artikel sebelumnya kami telah membahas tentang Band Montecristo yang berasal dari Jakarta. Nah, sekarang tanggal 3 Desember telah ditetapkan sebagai selamat Hari Difabel Internasional. Sudah mengenal belum makna dari kata “Difabel” itu sendiri? yuk simak ulasan berikut!

Menurut John C. Maxwell, difabel adalah seseorang yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental yang sifatnya mengganggu atau merupakan suatu hambatan baginya untuk melakukan kegiatan sehari-hari secara layak atau normal. Dan menurut World Health Organization (WHO), difabel ialah suatu kehilangan atau ketidaknormalan baik itu yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun kelainan struktur atau fungsi anatomis. Lalu adakah perbedaan antara penggunaan istilah difabel dan disabilitas?

Selamat Hari Difabel Internasional

Berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 1997, disabilitas adalah seseorang yang termasuk ke dalam penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental ataupun gabungan penyandang cacat fisik dan mental. Menurut Konvensi Hak penyandang Disabilitas mendefinisikannya sebagai ketidaksemimbangan interaksi antara kondisi biologis dan lingkungan sosial. So, sobat GwsLur, meskipun penggunaan istilah difabel dan disabilitas seringkali disamakan, namun sebenarnya ada perbedaan konseptual antara keduanya. Difabel mengacu pada diri subjek yang memiliki kemampuan berbeda diabnding orang lain pada umumnya. Sedangkan penyandang disabilitas yang berasal dari istilah “Person with Disability”, mengarah pada lingkungan luar si subjek yang belum akomodatif sehingga menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan interaksi antara keadaan biologis subjek dengan lingkungan sosial. Sehingga ketika lingkungan sekitar sudah akomodatif dan subjek dapat melakukan kegiatan tanpa halangan lagi, maka orang tersebut tidak lagi dapat disebut sebagai penyandang disabilitas.

Sejatinya memang tidak ada gading yang tak retak, artinya tidak ada manusia yang sempurna dalam kehidupan didunia ini. Tentu harus kita sadari,bahwa tidak semua manusia diciptakan dengan kondisi fisik ataupun mental yang sempurna. Sebagian orang ada yang memiliki kekurangan seperti keterbelakangan mental, tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara, dan lain sebagainya. Ada pula yang dilahirkan sempurna, namun karena peristiwa tertentu misalnya bencana alam ataupun kecelakaan menyebabkan ia memiliki kekurangan fisik ataupun mental. Kemudian kekurangan tersebut menyebabkan seseorang memiliki keterbatasan dalam menjani kehidupannya, baik secara pribadi ataupun kelompok. Jelas dari keadaan ini kita pun tak patut melakukan deskriminasi kepada para penyandang difebel.

Banyak diantara mereka yang memiliki keterbatasan fisik ataupun mental namun tak membatasi kegigihan mereka dalam berjuang dan menorehkan segudang prestasi gemilang, bahkan melebihi seseorang yang memilki fisik ataupun mental sempurna. Misalnya sederet torehan prestasi luar biasa yang telah dicapai oleh atlet difabel Indonesia melalui ASEAN Para Games 2018 beberapa waktu lalu.

Jendi Panggabean Atlet Indonesia

Jendi Atlet DifabelJendi Panggabean, salah satu atlet yang mewakili Indonesia dalam ajang ASEAN Para Games 2018 cabang olahraga renang, berhasil membuktikan kegigihan dan kerja kerasnya hingga menyumbangkan emas untuk Indonesia. Singkat cerita, atlet renang ini sebenarnya terlahir dengan dua kaki yang utuh. Namun akibat kecelakaan motor yang dialaminya ketika berusia dua belas tahun, membuat kaki kirinya harus diamputasi. Rasa minder tertanam pada dirinya ketika duudk dibangku SMA, namun kekuatan motivasi dan semangat dari orangtua yang tiada henti dalam memberi pengertian tentang keberhasilannya di masa depan, membuat Jendi terus bangkit dan berkemauan keras gigih berjuang seperti orang lain pada umumnya.

Hingga pada akhirnya dia pun bertemu dengan pelatih yang sedang mencari bibit-bibit hari difabel Internasional, mulai berlatih dengan teknik-teknik khusus berenang untuk satu kaki. Ketika ada pemusatan latihan daerah untuk persiapan Pekan Olahraga Nasional, Jendi pun berkemauan keras untuk berlatih dengan atlet-atlet non difabel sehingga bisa tertantang untuk mengikuti cara mereka berenang dan kecepatan waktu yang mereka torehkan. Alhasil perjuangan tersebut tidak sia-sia, hingga pada akhirnya Jendi direkrut menjadi atlet difabel dan rutin menyumbangkan medali untuk Indonesia sejak tahun 2012. Luar biasa ya sobat, proses memang tak pernah mengkhianati hasil 🙂

Pemerintah sendiri telah menetapkan UU Nomor 8 tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. Dimana pemerintah menurut undang-undang ini memberikan kesamaan kesempatan dengan menciptakan keadaan yang memberikan peluang dan/atau menyediakan akses kepada Penyandang Disabilitas untuk menyalurkan potensi dalam segala aspek penyelenggaraan negara dan masyarakat. Contoh yang bisa dilihat berkaitan dengan poin ini semisal kesempatan untuk menduduki posisi sebagai Pegawai Negeri Sipil dalam bagi Penyandang Disabilitas pada rekrutmen CPNS 2018 yang masih hangat di telinga kita ya sobat.

Menurut data yang dilansir dari Program Perlindungan dan Layanan Sosial (PPLS) pada 2012 menunjukkan ada 3.838.985 penyandang disabilitas yang tinggal di Indonesia. Namun sayangnya mereka masih menghadapi beragam isu mobilitas sehari-hari, seperti trotoar yang dipenuhi pedagang kaki lima, jembatan bagi pejalan kaki tanpa fasilitas elevator, bahkan area khusus penyandang disabilitas yang disalahgunakan oleh para pengemudi transportasi umum. Hambatan ruang publik inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah. Sebab Penyandang Disabilitas pun ingin menikmati fasilitas umum secara mandiri tanpa merepotkan bantuan dari orang lain.

Jepang bisa disebut-sebut sebagai negara maju yang super sibuk, namun negara ini masih memikirkan ruang publik dan memberikan kesempatan setara kepada para difabel. Komitmen untuk merawat prinsip kesetaraan bagi orang-orang hari difabel internasional ini, diwujudkan dalam ketersediaan fasilitas umum yang menunjang keseharian mereka. Yang disediakan Jepang bukan teknologi-teknologi ajaib seperti mobil terbang, namun fasilitas umum yang biasa digunakan oleh orang normal yang disesuaikan dengan kebutuhan para difabel. Contoh sederhananya adalah toilet. Dibandingkan dengan toilet pada umumnya, toilet untuk difabel berukuran lebih luas dan dilengkapi dengan banyak pegangan di pinggiran tembok, pinggiran wc, dan pinggiran wastafel. Tidak hanya toilet, tempat parkir khusus pun disediakan bagi para difabel di pusat-pusat pertokoan, Rest area, rumah sakit, supermarket, taman, dan fasilitas umum lainnya. Parkir khusus ini biasanya ditempatkan di depan atau di pinggir pintu masuk gedung. Sederhana, namun langsung menyentuh aktivitas sehari-hari bagi para difabel.

Nah hal ini dapat menjadi contoh bagi para stakeholders penyedia ruang publik di Indonesia agar Penyandang Difabel dapat mandiri dalam melakukan mobilitas dan hak menikmati fasilitas umum pun dapat terpenuhi. Selamat Hari Difabel Internasional, semoga artikel dari GwsLur dan momentum ini dapat menjadi refleksi bagi kita untuk memahami segala kekurangan orang lain serta mengubah kekurangan tersebut menjadi kelebihan di masa depan tentunya dengan kegigihan dan kerjakeras.

Leave A Reply

Your email address will not be published.