Pura Pertama di Sidoarjo

0 170

GWSLur.id – Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 yo bagi seluruh dulur Darjo dan umat Hindu yang merayakan. Semoga kita bisa lebih dekat dengan Tuhan dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi terutama dalam agama. Nah Lur ngomong-ngomong soal Hari Raya Nyepi iki, dulur Darjo ngerti ga opo jenenge Pura pertama di Sidoarjo dan dibangun kapan? Nek gurung ngerti, dibahas bareng-bareng yuk~

Ternyata Lur, di Sidoarjo tercinta kita ini ada Pura pertama yang dibangunnya penuh dengan perjuangan dari tahun 1970-an. Sejarahnya, bermula dari umat Hindu wilayah Balonggarut, Krembung membutuhkan tempat ibadah yang sesuai. Apalagi untuk melaksanakan hari besar atau upacara adat. Ada beberapa tokoh yang menginisiasi nih Lur, yaitu Mbah Untung dan Mangku Wirai. Kemudian dibantu dengan umat Hindu yang berjumlah seiktar 200-an orang saling membantu mencari, membuat, mengumpulkan bahan bangunan sendiri dan membangunnya. Walaupun uwakeh halang rintang dalam membangun tempat ibadah ini, para umat Hindu tetep semangat hingga akhirnya bisa mendapat berbagai bantuan. Mbah Untung menghibahkan tanah kebun belakang rumahnya agar bisa memperluas Pura tersebut.

Bantuan dana pun akhirnya berhasil didapatkan juga setelah melobi pejabat daerah Sidoarjo dan kerabat yang beragama Hindu. Setelah akhirnya jadi, sekitar tahun 1991-1992 Pura pertama ini diresmikan oleh Bupati Sidoarjo Edi Sanyoto dan juga dihadiri oleh pengurus Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Sidoarjo dan PHDI Jawa Timur. Saat itu pula akhirnya diberi nama resmi menjadi Pura Jagat Natha Margo Wening. Dengan semakin banyak jemaat Hindu yang berdatangan, tidak hanya wilayah Sidoarjo saja, tapi ada juga yang dari Surabaya, Mojokerto, hingga Pasuruan. Saat upacara hari-hari besar seperti Galungan, Kuningan, Melasti (jelang Nyepi), dan Nyepi beberapa orang-orang Bali pun ikut berkumpul di Pura tersebut. Kalau upacara-upacara sebelumnya hanya dipmpin oleh mangku lokal, kini PHDI turut mebantu menyiapkan rohaniawan untuk memimpin upacara hari besar tersebut.

Dengan banyaknya jemaat yang beribadah di Pura Jagat Natha Margo Wening, maka sekitar tahun 1999 Bupati Sidoarjo saat itu Win Hendrarso, memberikan izin resmi untuk merelokasi dengan tanah yang lebih luas dan hanya berjarak belasan meter dari Pura lama. Pura yang direlokasi juga berukuran 640 meter, empat kali lebih luas dibanding dengan Pura sebelumnya. Setelah selesai direlokasi, pada tanggal 21 Agustus 2004 Bupati Win Hendrarso meresmikan kembali Pura tersebut dan berganti nama menjadi Pura Agung Margo Wening dan dihadiri oleh ribuan umat Hindu dari Jawa Timur dan Bali. Uniknya lagi, tidak hanya untuk beribadah, Pura ini juga digunakan untuk sekolah agama Hindu mulai dari jenjang pendidikan SD hingga SMA. PHDI mengadakan kelas khusus ini setiap pekan. Siji maneh keunikan Pura iki Lur, yoiku menjadi salah satu Pura yang menjadi inspirator agar di Sidoarjo ini dibangun Pura di wilayah lain. Pura opo ae iku? Entenono nang artikel berikutnya yo, Lur!

(hun)

Leave A Reply

Your email address will not be published.