PG CANDI BARU – Peninggalan Kolonial Yang Berdaya Hingga Sekarang

0 134

GWS.id – Di zaman penjajahan Pemerintah kolonial Belanda, Sidoarjo dijadikan sebagai sentra produksi gula, karena pemerintah Belanda mampu melihat potensi kesuburan wilayah Sidoarjo. Di sekitar tahun 1800-an, para pengusaha Cina yang didukung pemerintah kolonial Belanda mulai menjadikan Sidoarjo sebagai salah satu sentra produksi gula.

Di masa itu masih banyak pesawahan serta lahan yang tidak produktif, mereka kemudian disulap menjadi pabrik tebu. Sejarah mencatat terdapat sekitar 10 pabrik tebu yang pernah berdiri di Sidoarjo. Mulai dari Ketegan – Taman, Sruni – Gedangan, Buduran, Candi, Tulangan, Krembung, Wonoayu, Krian hingga Watu Tulis – Prambon. Hal ini memunculkan pendapat masyarakat bahwa industri gula di Sidoarjo pada masa itu merupakan yang paling potensial dari industri serupa di Nusantara. Pasalnya, hanya Sidoarjo yang memiliki pabrik gula sebanyak itu setelah pabrik-pabrik gula di kawasan Batavia dan sekitarnya runtuh satu persatu.

Pabrik Gula Candi adalah salah satu pabrik yang berdiri akibat banyaknya industri gula tumbuh di Sidoarjo pada zaman kolonial Belanda. PG Candi juga merupakan salah satu pabrik gula yang dapat beroperasi hingga sekarang, seperti yang kita ketahui bahwa beberapa pabrik gula yang ada di Sidoarjo yang berdiri di zaman pemerintahan kolonial Belanda sudah tidak beroperasi lagi.

Pabrik gula Candi ini terletak di Jalan Raya Malang-Surabaya No. 10 desa Candi, kecamatan Candi, kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Lokasi pabrik gula ini berada di sebelah utara UD Gili Young. Nama pabrik gula yang berlokasi di Candi ini adalah PG Candi Baru, dibangun pada tahun 1832 oleh keluarga Goen Jing yang bernama Kapten Tjoa, tapi kemudian dikelola oleh orang Belanda.

PG Candi ini dinyatakan sebagai badan hukum yang legal oleh Pengadilan Negeri Surabaya melalui Surat Keputusan (SK) Pengadilan Negeri Nomor 122 tanggal 31 Oktober 1991 dengan nama NV Suikerfabriek Tjandi. Nama ini diperoleh dari lokasi dimana perusahaan itu berada. Setelah Perang Dunia (PD) II, PG Candi dikendalikan oleh Perusahaan Perkebunan Negara XXII (PNP XXII) untuk beberapa tahun, tetapi pengelolaannya masih tetap ditangani oleh Kapten Tjoa. Pada periode tersebut, kapasitas giling perusahaan adalah 750 ton tebu dan menghasilkan produksi gula jenis Superior Hooft Suiker (SHS).

Menjelang kedatangan Jepang, pada tahun 1941 pabrik gula ini ditutup, dan baru dibuka kembali pada tahun 1950. Pada 1962 diadakan Rapat Umum Pemegang Saham di mana para pemegang saham menyetujui perubahan nama menjadi PT PG Tjandi. Hasil rapat pemegang saham ini kemudian didaftarkan ke Kementerian Kehakiman kala itu, yang kemudian terbitlah Surat Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor Y.A.5/122/1 tanggal 14 Oktober 1962 yang menyatakan persetujuannya akan perubahan nama tersebut.

Setelah adanya perubahan status nama dari Naamloze Vennootschap (NV) menjadi  Perseroan Terbatas (PT) ini, beberapa pengusaha berkeinginan membeli saham pabrik gula ini. Pada 1963, H. Wirantono Bakrie membeli beberapa bagian saham perusahaan, kemudian pada 1972 semua saham pabrik gula ini dibeli oleh keluarga H. Wirantono Bakrie, yang terdiri dari H. Wirantono Bakrie, H. Ahmad Badawi Bakrie, dan Dr. H. Faruk Bakrie.

Agenda rehabilitasi PG Candi Baru dilakukan dalam upaya meningkatkan kapasitas giling menjadi 1.250 ton tebu per hari, manajemen melakukan rehabilitasi pada tahun 1975. Pada 1981, kapasitas meningkat menjadi 1.500 ton tebu per hari dengan kualitas Superior Hooft Suiker (SHS).

Pada 1991, PT PG Candi dikelola oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI), dan kemudian pada tahun 1992 PT RNI berusaha membeli 55% saham dari H. Wirantono Bakrie. Di tahun 1993, PT PG Candi berubah nama menjadi PT PG Candi Baru, dan di tahun tersebut mampu meningkatkan kapasitas gilingnya menjadi 1.800 ton SHS 1-A per hari.

Tahun 1998, kondisi PG Candi Baru mulai memburuk. Enam tahun kemudian pabrik gula ini didera kerugian yang besarnya Rp 4 miliar hingga Rp 13 miliar per tahun. Hal ini lantaran ada gangguan jarinagan kabel listrik yang ditanam di bawah tanah sejak era Hindia Belanda ini, terendam banjir. Kegiatan pabrik pun otomatis terhenti. Di samping itu juga karena kondisi mesin uap yang menjaditenaga utama pabrik itu sudah usang, karena dibuat pada tahun 1921. Kemampuan mesin uap tersebut telah menurun hingga 50 persen.

Melihat kondisi itu, manajemen RNI mengambil langkah nekat, yaitu membeli seluruh saham PG Candi Baru yang dikuasai perorangan sehingga kepemilikannya menjadi 98,2 persen di akhir tahun 2004. Langkah ini sempat mengundang kemarahan pemerintah sebagai pemegang saham RNI, karena saat sembilan pabrik gulanya merugi malah menambah saham. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyediakan dana Rp 14,1 miliar sebagai dana investasi untuk memperbaiki seluruh pabrik dengan satu motto: Inovasi atau Mati!

Investasi yang dilakukan untuk mengganti mesin-mesin yang sudah tua dan memperbaiki jaringan listrik bawah tanahnya ini, mulai membuahkan hasil. Efisiensi mesin meningkat 74 persen menjadi 91 persen. Selain itu, untuk pertama kalinya sejak enam tahun, PG Candi Baru meraup untung sebesar Rp 10, 663 miliar pada akhir tahun 2005.

 

 

Sumber : https://situsbudaya.id/

Leave A Reply

Your email address will not be published.