Opo Se Dino Valentine Iku?

0 10

GWS.id – Tanggal 14 Februari adalah tanggal dimana semua orang merayakan cinta, paling tidak begitu paradigma beberapa orang. Tanggal 14 bulan ini dinamakan sebagai Hari Valentine. Tapi perihal valentine ini sebenarnya masih sangat simpang siur mengenai apa sih sebenarnya yang dirayakan. Beberapa pihak melegitimasi perayaan valentine sebagai kegiatan untuk mengungkapkan kasih sayang, sebagian lain mengungkapkan kasing sayangnya dengan sangat berlebih dan menggangu kenyamanan orang lain, ada pula pihak yang menganggap bahwa valentine adalah upaya penyesatan dan sebagainya, buruk lah pokoknya, dan kita sebagai masyarakat timur tidak seharusnya merayakannya.

Terus kita harus gimana dong menyikapinya? Boleh gak sih sayang-sayangan? Ya tentu saja boleh, kan sayang itu adalah rasa empati kita terhadap orang lain. Meskipun gak pas tanggal 14 Februari ya kita harus tetap mengungkapkan rasa sayang, tapi memang sayang yang dimaksud adalah sayang yang berada dalam batas kewajaran sesuai konteks wilayah masing-masing. Kenapa kok sesuai konteks wilayah? Ya karena tiap wilayah pasti memiliki aturan normatif yang berbeda terkait batasan bagaimana orang diperbolehkan mengungkapkan rasa sayangnya.

Tapi hari kasih sayang yang biasa kita sebut hari valentine selalu mengahadirkan jebakan yang sama dan orang yang merayakan valentine selalu terjebak berulang-ulang. Jebakanya adalah selalu mengasosiasikan valentine dengan pacar. Padahal kan untuk mengekpresikan hari kasih sayang ini bisa ditujukan ke siapapun orang yang disayang. Yaa, meskipun pacar memang salah satunya, tapi orang tua, adek, kakak, atau sahabat adalah orang yang tepat untuk kita mengekpresikan rasa sayang kita.

Ben awakmu tambah bingung terkait opo iku valentine, wocoen lur artikel-artikel terkait valentine sing wes dikumpulno ambek tim redaksi gws lur ngisor iki:

  1. Versi 1

Arti Valentine’s Day

Tanggal 14 Februari merupakan hari perayaan atau peringatan dihukum matinya seorang kristen bernama Santo Valentine yang merupakan utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uksup karena keyakinannya. Kejadian ini terjadi tepat pada tanggal 14 Februari 270 M.

Asal Mula Sejarah Valentine Day’s

Valentine’s Day adalah salah satu hari raya bangsa Romawi Paganis (penyembah berhala), bangsa romawi telah menyembah berhala semenjak 17 abad silam. Jadi hari raya Valentine ini merupakan sebutan kecintaan terhadap sesembahan mereka. Ada banyak versi tentang sejarah Valentine, tetapi dari sekian banyak versi dapat disimpulkan bahwa hari Valentine tidak memiliki latar belakang yang jelas sama sekali. Perayaan ini telah ada semenjak abad ke-4 SM, dan diadakan pada tanggal 15 Februari. Perayaan ini bertujuan untuk menghormati dewa yang bernama Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan menggunakan pakaian dari kulit kambing. Acara ini berbentuk upacara dan di dalamnya diselingi penarikan undian untuk mencari pasangan. Dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama, para gadis mendapatkan pasangan. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun, sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah sendiri, mereka menulis namanya untuk dimasukkan ke kotak undian lagi pada upacara tahun berikutnya.

Beratus abad kemudian, pada 14 Februari 269 M, seorang pendeta kristen yang juga dikenal sebagai tabib (dokter) dermawan yang bernama Valentine meninggal. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam, ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya. Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan karena mereka tidak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila. Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin. Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Sejak kematian Valentine pada 14 Februari, kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan. Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu Santo Valentine.

Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan “Valentine’s Day”. Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.

Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Sesuai perkembangannya, Hari Kasih Sayang tersebut menjadi semacam rutinitas ritual bagi kaum gereja untuk dirayakan. Agar tidak kelihatan formal, peringatan ini dibungkus dengan hiburan atau pesta-pesta.

Sumber: http://ittaqi-tafuzi.blogspot.com/2013/02/artikel-kisah-perayaan-hari-valentine-day.html

 

  1. Versi 2

Setiap tahun pada tanggal 14 Februari, tak terhitung jutaan orang merayakan sebuah hari yang kita kenal sebagai Hari St. Valentine. Jutaan kartu berbentuk hati dan cokelat diberikan sebagai hadiah, dan bahkan gereja-gereja mengadakan pesta Valentine pada hari yang juga disebut “Hari Cinta” ini. Di sekolah-sekolah, dari pra sekolah hingga Teman Kanak-kanak, anak-anak senang melakukan pertukaran kartu yang berbentuk hati. Orang-orang dari segala usia juga turut serta, dan kata-kata yang terdengar dimana-mana pada hari itu adalah, Be my valentine

Kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa kebanyakan orang tidak pernah mempertanyakan asal-usul/ adat istiadat perayaan Valentine. Sebagian orang hanya ikut-ikut saja dan tak pernah mempertimbangkan bagaimana Tuhan merasa tentang Valentine yang berhubungan erat dengan lambang hati ini. Ketika kita menganggap bahwa Hari Valentine adalah hari yang menyenangkan, adalah penting bahwa kita mendengarkan kata-kata berikut yang diucapkan oleh Yang Mahakuasa dalam Yeremia 17:9-10.

Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?

Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”
Kita harus tahu darimana sebenarnya asal usul tentang valentine, mengapa hari ini begitu tidak biasa? Mengapa ada keasyikan dengan warna merah? Dari mana bentuk hati berasal, dan apa artinya? Kita akan temukan jawaban-jawaban nya segera.
Pada masa Kekaisaran Romawi, bulan Februari adalah bulan terakhir dan terpendek. Awalnya Februari terdiri dari 30 hari, tetapi ketika Julius Caesar menamai bulan July/ Juli sesuai dengan namanya Julius, ia memutuskan untuk membuat bulan itu lebih panjang dan Februari disingkat menjadi 29 hari sementara bulan Juli menjadi 31 hari. Kemudian, ketika Octavius Caesar, juga dikenal sebagai Augustus, berkuasa, ia juga menamai bulan Agustus seperti nama dirinya sendiri, dan tidak mau kalah dia juga mengurangkan hari dari bulan Februari dan memberikan bulan Agustus dari 30 hari menjadi 31 hari. Dan sampai sekarang penanggalan itu pun berlaku. Bangsa Romawi kuno percaya bahwa setiap bulan memiliki roh yang memiliki kekuatan dan mencapai puncaknya atau puncak kekuasaan di pertengahan bulan.

Biasanya pada hari ke-15, dan itu adalah hari ketika penyihir dan ahli nujum, atau peramal melakukan pekerjaan sihir mereka. Seorang ahli nujum adalah orang yang dipenuhi dengan kekuatan meramal, dan dari kata aslinya, ahli nujum atau augur kita mendapatkan kata inaugutrate atau “meresmikan”, yang berarti juga untuk “mengambil pertanda”. Sejak Februari telah dirampok oleh Caesars dan hanya memiliki 28 hari, pertengahan bulan Februari menjadi tanggal 14. Karena dirayakan pada malam sebelumnya, bulan Februari menjadi unik, karena pada hari ke-13 menjadi hari yang menjelang pertengahan bulan itu, dan itu menjadi hari libur pagan (penyemba berhala) yang sangat penting dalam Kekaisaran Roma. Hari suci 14 Februari disebut “Lupercalia” atau “hari serigala.”

Ini adalah hari yang suci atau kegilaan seksual bagi dewi Juno. hari ini juga untuk menghormati dewa Romawi, Lupercus dan Faunus, serta saudara kembar legendaris, yang konon mendirikan Roma, Remus dan Romulus. Yang konon pernah disusui oleh serigala di sebuah gua di Bukit Palatine Roma.

Sebuah gua yang disebut Lupercal merupakan tempat pusat perayaan pada malam Lupercalia atau 14 Februari. Sekarang ini, Lupercalia, yang kemudian disebut Hari Valentine, Luperci atau pendeta Lupercus akan berpakaian bulu kambing untuk sebuah upacara berdarah. Para pendeta dari Lupercus, dewa serigala, akan mengorbankan kambing dan seekor anjing dan kemudian melumuri tubuh mereka dengan darah. Setelah tubuh pendeta Lupercus menjadi merah karena dulumuri darah, dia akan berjalan di sekitar bukit Palatine dengan menggunakan tali yang terbuat dari kulit kambing yang dinamai “februa.”

Wanita-wanita akan duduk di sekitar bukit, lalu mereka akan dicambuki dengan tali kulit kambing supaya mereka menjadi subur. Para wanita muda kemudian akan berkumpul di kota dan nama mereka dimasukkan ke dalam kotak. Inilah “surat cinta” disebut “billet.” Pria-pria Roma akan mengambil bilet, dan wanita yang membuat billet tersebut akan menjadi pasangan seks liarnya, dan dia akan berzina sampai Lupercalia berikutnya atau 14 Februari.

Jadi, 14 Februari menjadi hari nafsu seksual yang tak terkendali. Warna “merah” dan “bentuk hati” melambangkan kekudusan untuk hari ini. Bentuk-bentuk hati yang ada pada perayaan ini bukan bentuk hati atau jantung dari organ tubuh manusia, melainkan bentuk ini melambangkan rahim wanita atau membuka ke kamar persetubuhan yang suci menurut mereka.

Ketika Gnostik Gereja Katolik mulai mendapatkan kedudukan di Roma sekitar abad ke 3, mereka kemudian dikenal sebagai Valentinians. Valentinians Katolik mempertahankan lisensi festival seks ini yang mereka sebut “malaikat dalam ruang perkawinan”, yang menurut mereka adalah pemeragaan dari perkawinan “Sophia dan Penebus”. Saat peserta upacara 14 Februari memulai sakramen seksualnya, pendeta yang dikenal sebagai Valentinians akan memimpin dan menyaksikan, lalu mereka akan mengucapkan:” Biarkan cahaya benih turun ke dalam kamar pengantin-Mu, diterima oleh mempelai laki-laki … tangan-Mu terbuka untuk memeluknya. Sesungguhnya, rahmat telah turun atasmu. ” Seiring berjalannya waktu, Gereja Ortodoks menekan Katolik Gnostik dan menghasilkan “St Valentine “, dimana hari itu terus dirayakan sampai zaman modern.
Sonia Valentinians

Kita sebagai orang beragama harus menghindari ini seperti menghidari sebuah virus. Karena di mata Tuhan, hari itu masih merupakan “Lupercalia”, “The Day Of The Wolf” atau hari serigala. Pria-pria menjadi serigala, karena mereka melakukan ritual setan yaitu percabulan, yang juga berarti hubungan seksual tanpa pernikahan. Mereka merasa telah mendengar dari “siulan serigala”, dan kita semua tahu bahwa serigala tidak bersiul. Ini adalah laki-laki dan wanita yang penuh nafsu, yang melakukan penghujatan dari Setan pada saat ini.

Sebagai kesimpulan, kita harus bertanya kepada diri sendiri, “Haruskah orang beragama dihubungkan dengan cara apapun pada perayaan akar kejahatan ini? Haruskah kita akan melakukan apa yang orang kafir lakukan selama bertahun-tahun dan mencoba untuk membenarkan itu sebagai cinta?” Roma 12:2 jawaban ini sangatlah baik,

” Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Sumber : https://boaskapitannabu.wordpress.com/2013/02/14/arti-dan-sejarah-valentine-yang-sebenarnya/

 

  1. Versi 3 (versi islam)

Dalam versi islam MUI Jawa Timur sudah memfatwakan bahwa haram hukumnya merayakan valentine Dalam fatwa tersebut, MUI Jawa Timur menetapkan haram bagi umat Muslim yang ikut dalam perayaan Hari Valentine. ” Membantu dan memfasilitasi penyelenggaraan perayaan Hari Valentine adalah juga haram,” kata Ketua Umum MUI Jawa Timur Abdusshomad Buchori, dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Menurut Buchori, perayaan Hari Valentine bertentangaan dengan syariat Islam. Hari Valentine atau biasa disebut Hari Kasih sayang merupakan peringatan yang muncul dari tradisi penganut agama di luar Islam.

” Terlepas apa pengertian Hari Valentine yang sebenarnya, kenyataannya Hari Valentine merupakan kegiatan yang berasal dari tradisi umat agama lain di luar Islam,” kata dia. Keluarnya fatwa itu, kata dia, juga untuk memberi penjelasan bagi status dan hukum terhadap fenomena perayaan Hari Valentine. Sebab, belakangan, perayaan Hari Valentine kerap mengarah para pergaulan bebas dan perzinaan.

Sumber : https://www.dream.co.id/news/mui-jawa-timur-keluarkan-fatwa-haram-hari-valentine-1702130.html

 

Wes ta? Wes tambah ngelu? Ojok ngelu, Lur, diwoco alon-alon ae. Ate piye awakmu engko menyikapi valentine iku tetep dadi keputusanmu dewe, Lur. Pokoke sing bertangung jawab dan ojok ngerugikno wong liyo, Lur ngge a <3

Leave A Reply

Your email address will not be published.