Nyai Ontosoroh Panutanqu

0 49

 

GWSLur.id – Nyai Ontosoroh sebenarnya adalah sosok fiktif dengan karakter nyata yang diangkat dalam novel karya Pramodya Ananta Toer a.k.a Pram. Dalam novel tetralogi “Pulau Buru” yang berjudul “Bumi Manusia”, Pram menceritakan sosok wanita tangguh yaitu Nyai Ontosoroh, anak dari seorang juru tulis di Pabrik Gula Tulangan sekitar akhir abad 19.

Jelas e dulur Darjo kabeh kudu podo bangga karena Sidoarjo menjadi salah satu latar utama yang masuk dalam salah satu novel terbaik karya Pram. Hal ini tentunya berdampak pada potensi wisata Sidoarjo Lur. Buktine, pihak PG Tulangan kembali me-recovery pabrik dengan mengembalikan ornamen-ornamen zaman Belanda mulai dari lantai marmer, lampu hias, dan benda kuno lainnya yang khas dengan Belanda kala itu. Selain jadi destinasi wisata heritage, pabrik ini juga menyediakan guest house tuk para pengunjung yang ingin bemalam. Yang makin bikin asyique nih karena gedung pertemuan di PG Tulangan juga akan diubah menjadi museum dan kafe. Museum tersebut akan ‘bercerita’ tentang sejarah pabrik yang berdiri mulai dari tahun 1850-an.

Nah kan PG Tulangan wes tau dibahas sak durunge, saiki bahas Nyai Ontosoroh ae Lur, agar supaya kita menjadi wanita tangguh dan tyda menye-menye hehe.

 

  1. Terus berusaha bangkit dari keterbatasan

Hidup Nyai Ontosoroh iku penuh perjuangan Lur. Karena ayahnya yang haus jabatan, maka akhirnya dari umur 14 tahun Nyai Ontosoroh dijadikan gundik atau bahasa kasarnya adalah wanita simpanan pengusaha Belanda. Dalam masa terpuruknya menjadi gundik serta merta dianggap remeh bahkan di-bully. Lebih terpuruk lagi ketika, hanya menjadi wanita simpanan yang tyda dinikahi secara sah tapi juga harus mengurusi ‘suami ala-ala’-nya tersebut. Siapa juga to yang betah hidup dalam keterpurukan? Dengan semangat membara Nyai Ontosoroh mencoba bangkit dengan cara belajar dan mempelajari banyak hal yang beliau belum tau. Karena dengan belajar, beliau berpendapat bahwa dengan belajar hidupnya dapat lebih baik lagi sehingga tyda akan bisa dibohongi dan bisa melawan kejahatan dengan cara yang elegan.

Nyai Ontosoroh terus belajar bahasa Belanda, bahasa Melayu, budaya, hukum Belanda, tata niaga Belanda dan masih banyak yang lainnya. Tyda menyerah dengan emosi dan keterpurukan, maka lakukanlah hal yang bermanfaat kawan. Pabila anda galau, bisa lah mengikuti kegiatan komunitas, belajar masak, atau mengeksplor soft skill lainnya yang semakin mudah didapat di era modern sekarang. Maka lawanlah rasa pasarah dan magermu~

 

  1. Menjadi wanita mandiri, tangguh, dan bisa diandalkan adalah yang utama

Setelah suaminya meninggal, Nyai Ontosoroh haruslah menjadi wanita mandiri yang juga mengurusi anak-anaknya sendiri dan mengurusi perusahaan suaminya. kembali dipandang remeh lagi oleh masyarakat, karena tlah menjadi janda tapi Nyai Ontosoroh tetap bisa membuktikan bahwa dirinya bukanlah wanita lemah. Dengan hasil ketekunan belajar, Nyai Ontosoroh juga tetap bisa mengurus semuanya sendiri termasuk memperjuangkan hak-nya sebagai perempuan. Ibarat e, wani perih timbangane kudu ngemis kono kene.

Karena pada hakikatnya, menjadi wanita mandiri itu seru Lur. Kita tak akan menyusahkan atau bahkan bergantung pada orang lain. Jadi wanita tangguh dan bisa diandalkan juga bermanfaat bagi diri kita sendiri karena kita bisa menggapai cita-cita dan menjadi good influencer to other people. Siapa dong yang ga bangga dengan diri sendiri karena bisa memberikan efek baik karena prestasi kita? Makanya, teruslah explore diri, keluar dari zona nyaman, and try to do it yourself girls!

 

  1. Realistis idealis

Dengan karakter tangguh nan mandiri, tapi tyda menutup kemungkinan bahawa kita tak butuh pendamping hidup ya Lur hehe. Memang kita hidup kan berpasang-pasangan. Tapi fenomena menarique adalah ketika bocah-bocah abg labil sekarang sudah pada pacaran layaknya orang dewasa. Sedangkan yang jomblo-jomblo di-bully dan menjadi galau karena merasa dirinya tak laku-laku. C’mon girls, hidup tak melulu tentang romansa percintaan yang manis di awal. Hidup ini tentang indahnya menggapai cita-cita. Baru deh sosok yang tepat itu juga akan datang dan kembali menggapai indahnya cita-cita bersama. Idealis boleh, tapi realistis juga harus ya.

Jadi, kutipan Nyai Ontosoroh ini benar-benar dapat memotivasi kita tuk menjadi perempuan hebat sesungguhnya. “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai”. Semangat girls!

(hun)

Leave A Reply

Your email address will not be published.