Legenda Joko Pandelengan dan Nyi Loro Walang Angin

0 140

Ada kisah unik yang menjadi cerita rakyat setempat tentang kedua candi ini.Cerita rakyat berawal ketika Dahulu kala desa Candi Pari, Porong ini merupakan desa paling makmur diwilayah Kerajaan Majapahit, dan Majapahit sendiri merasa berhutang jasa dengan desa ini. Karena pada saat Majapahit gagal panen itu meminta bantuan padi ke desa ini. Yang memiliki padi itu adalah dua pasang suami istri yaitu Joko Padelengan dan Nyai Loro Walang Angin. Karena sudah sangat berjasa kemudian sang Raja Majapahit ( Prabu Brawijaya) mengutus sang patih untuk memanggil Joko Pandelegan beserta istrinya agar tinggal di istana Majapahit dengan maksud akan dinaikkan pangkat dan derajatnya. Dan apabila mereka tidak bersedia supaya dipaksa tanpa menimbukan cidera pada badannya bahkan jangan sampai menyebabkan kerusakkan pada pakaiannnya. Sebelum perintah itu di sampaikan kepada mereka, ternyata Joko Pandelegan punya firasat akan mendapatkan panggilan dari istana Majapahit akan tetapi panggilan tersebut tidak dihiraukannya. Hal itu sudah dipertimbangkan bersama istrinya, Nyai Loro Walang Angin.

Mereka tidak menghendaki ajakan Raja Majapahit ini karena ingin mempertahankan Desa Kedungras. Ketika patih Majapahit datang menyampaikan panggilan ia tetap saja menolak, sekalipun dipaksa Joko Pandelegantetap saja membangkang. Ia pun selanjutnya menyembunyikan diri pada sebuah lumbung padi (sekarang Candi Pari). Dan sewaktu sang patih berusaha untuk menangkap dan mengepung tempat itu, maka Joko Pandelegan menghilang tanpa bekas (moksa).

Setelah menghilangnya sang suami, Nyai Loro Walang Angin yang membawa kendi berpapasan dengan patih di suatu tempat, ketika akan di tangkap berkatalah ia “biarkan saya terlebih dahulu mengisi kendi ini di sebelah barat daya lumbung padi itu” dan saat tiba di sebelah timur sumur (sekarang Candi Sumur), maka hilanglah istri Joko Pandelegan itu. Setelah suami istri itu menghilang tanpa bekas (moksa), sang patih pulang kembali dengan tangan hampa dan melaporkan kejadian ini kepada sang prabu.

Mendengar kejadian itu baginda sangat kagum atas kecekatan dan prinsip Joko Pandelegan dan istrinya. Yang akhirnya Sang Prabu Brawijaya mengeluarkan perintah untuk mendirikan dua buah candi guna mengenang peristiwa hilangnya suami istri itu. Candi untuk mengenang hilangnya Joko Pandelegan dinamakan Candi Pari. Sedangkan candi yang didirikan di tempat Nyai Loro Walang Angin menghilang diberi nama Candi Sumur. (dnm)

Leave A Reply

Your email address will not be published.