Sumpah Pemuda: Ikrar Suci Bangsaku 28 Oktober

0 23

Gwslur_id – Hai dulur Sidoarjo. Pada artikel sebelumnya kami telah membahas tentang Kampung Kerupuk Kedung Rejo, dan sekarang pada tanggal 28 Oktober itu merupakan hari bersejarah bagi Negara Indonesia. Wes podo eruh toh, ing tanggal iki ono peringatan opo? Yup, Hari sumpah pemuda.

Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku,
bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
berbangsa satu, bangsa Indonesia
Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Nah ikrar ini diucapkan ribuan pemuda Indonesia sembilan puluh tahun silam. Sesuai dengan namanya “Sumpah Pemuda” adalah peristiwa atau momentum ketika para pemuda Indonesia kala itu mengucapkan ikrar bahwa mereka bertanah air satu yaitu tanah air Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober

Tahun 1926 merupakan tahun yang menjadi cikal bakal sejarah lahirnya sumpah pemuda 1928. Momentum hari sumpah pemuda 1928 sendiri adalah tonggak utama pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dimana peristiwa ini menandakan munculnya kebulatan tekad pemuda Indonesia untuk mengakhiri masa ketertindasan yang dialami bangsa Indonesia berabad-abad.

Secara historis, lahirnya sumpah pemuda ini berawal dari para tokoh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) serta para cendekiawan yang mengemukakan idenya mengenai masalah untuk menyatukan seluruh organisasi berbasis pemuda yang ada di Indonesia. Sebab selama masa perlawanan menghadapi penjajahan, bangsa Indonesia selalu menderita kekalahan akibat organisasi-organisasi yang ada pada waktu itu memang masih bersifat kedaerahan. Oleh karena itu perlu sebuah alat pemersatu pemuda-pemuda di daerah agar kedudukan bangsa Indonesia menjadi semakin kuat, yaitu sumpah pemuda yang dapat diartikan sebagai titik kumpul perjuangan rakyat yang sebelumnya masih berbasis kedaerah dan kurang terkoordinir dengan baik.

PPPI yang diresmikan pada tahun 1926 ini terdiri dari pelajar-pelajar yang berasal dari Jakarta dan Bandung, namun dalam perkembangannya organisasi ini kemudia oleh seluruh pelajar di seluruh Indonesia, diantaranya Moh.Yamin, Sugondo Djoyopuspito, A.K. Gani, Sigit dsb. PPPI kemudian mengadakan pertemuan yang telah berlangsung selama satu tahun sejak tahun 1926. Hingga pada tanggal 20 Februari 1927, ditetapkan sebuah keputusan untuk menyelenggarakan sebuah pertemuan lanjutan yaitu diadakan Kongres Pemuda I yang berlangsung pada bulan April-2 Mei tahun 1928. Poin penting dari hasil pertemuan ini adalah mengakui dan menerima cita-cita persatuan Indonesia dan usaha untuk menghilangkan pandangan adat dan kedaerahan yang kolot.

Namun realitanya, pelaksanaan hasil Kongres Pemuda I belum berjalan sesuai yang diharapkan, banyak polemik terkait perbedaan bahasa dan fanatisme budaya yang sering terjadi. Belum lagi masih melekatnya unsur kedaerah dari beberapa organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond dsb. Dari masalah tersebut perlu diadakan pertemuan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa kita. Pertemuan kedua ini merupakan Kongres Pemuda II yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober 1928. FYI lur Kongres Pemuda II dilaksanakan dalam tiga sesi di tiga tempat yang berbeda. Sesi pertama dilakukan di gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein yang saat ini dikenal dengan Lapangan Banteng.

Sumpah Pemuda - Ikrar Suci Bangsaku 28 OktoberDalam acara ini, ketua PPPI yaitu Sugondo Djojopuspito memberikan sambutan hangatnya yang menyuarakan harapan agar kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan pemuda Indonesia. Sedangkan, Moehammad Yamin pun turut menguraikan apa arti persatuan, dan lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia, diantaranya sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Di hari kedua, rapat diselenggarakan di Gedung Oost-Java Bioscoop dengan fokus pembahasan pada masalah pendidikan. Pembicara dalam sesi ini adalah Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro. Kedua tokoh ini berpendapat bahwa anak Indonesia harus mendapat pendidikan kebangsaan, demi tumbuhnya rasa cinta tanah air dan persatuan. Pentingnya pendidikan yang humanis dan demokratis juga ditegaskan dalam sesi ini. Wah mantap banget ya lur isi pidatonya !

Dan di hari yang sama, rapat juga diadakan di gedung Indonesische Clubgebouw yang berlokasi di Jalan Kramat Raya Nomor 106. Pada rapat ini, materi dan orasi dipaparkan oleh  Sunario dan Ramelan. Sunario menjelaskan tentang pentingnya nasionalisme dan demokrasi, sedangkan Ramelan mengemukakan tentang gerakan kepanduan yang tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan ini adalah gerakan yang mendidik anak-anak sejak dini untuk disiplin dan mandiri, serta hal atau keterampilan lain yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Puncak acara-acara yang berlangsung selama tiga hari ini kemudian diakhiri dengan pembacaan ikrar “Sumpah Pemuda” sebagai landasan untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Ikrar ini menandai bahwa semangat nasionalisme para pemuda telah mencapai tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Adapun rumusan isi Sumpah Pemuda ini ditulis oleh Moehammad Yamin ketika Sunario , sebagai utusan kepanduan tengah berpidato tentang nasionalisme pada sesi terakhir kongres. Kemudian rumusan ini dibacakan oleh Soegondo dan dijelaskan secara detail serta menyeluruh oleh Moehammad Yamin. Pada momen bersejarah ini juga, lagu kebangsaan Indonesia Raya karya Wage Rudolf Soepratman diperdengarkan untuk yang pertama kalinya. Setelah sebelumnya, di tahun yang sama lagu ini juga telah dipublikasikan pada media cetak bernama “surat kabar Sin Po”.

Lalu sebagai pemuda nih lur, apakah kita sudah benar-benar mengamalkan ikrar sumpah pemuda itu, bagaimana Refleksi Pemuda Zaman Now dalam Peringatan Sumpah Pemuda ke 90 ini?

Di era milenial seperti sekarang, dimana hiruk pikuk persaingan politik sangat kental, banyak berkembangnya isu SARA serta berita hoax yang tersebar dengan luas di media, membutuhkan idealisme pemuda Indonesia yang kuat jika kita masih berkomitmen menjadi bangsa Indonesia. Menteri Sekretaris Negara RI, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., dalam pidato di sebuah pertemuan menyatakan hal yang harus dilakukan sekarang tidak hanya mengulang kembali deklarasi yang dilantangkan sembilan puluh tahun silam. “Dulu, Sumpah Pemuda tidak hanya bermakna sebagai deklarasi saja. Namun, itu menjadi semangat yang membakar perjuangan, konsistensi, dan kolaborasi luar biasa bangsa Indonesia sehingga tujuh belas tahun setelahnya bisa mencapai kemerdekaan.”

Rangkaian peristiwa dari hari Sumpah Pemuda hingga perjuangan revolusi Indonesia merupakan pertautan mimpi besar dan perjuangan besar, atau smart ideas dan smart execution.

Tentu tanpa eksekusi yang tepat, tidak akan ada perubahan selama sembilan tahun yang telah berlalu di negeri kita ini. Misalnya terkait pemerataan pembangunan, membangun dari pinggiran, dan pengentasan kemiskinan sebagai smart ideas seperti nilai yang bisa dipetik dari ikrar Sumpah Pemuda. Kemudian contoh lain adalah pembangunan transportasi laut seperti tol laut yang menghubungkan tiap dermaga kecil di Indonesia, sebagai sebuah smart execution.

Oleh karena itu, dulur Sidoarjo sebagai para pemuda Indonesia harus turut mengembangkan smart ideas dan smart execution dari hari Sumpah Pemuda sesuai konteks zaman now. Inti sarinya adalah mencintai negeri, bangga terhadapnya, dan tetap teguh memperjuangkan persatuan dan kesatuan Indonesia tanpa mudah termakan propaganda oknum-oknum yang ingin memecah belah NKRI, kuy jadi pemuda cerdas anti terprovokasi.

Cukup sekian ulasan dari GwsLur, semoga bermanfaat dan jangan lupa share ke teman-teman lainnya.
Bangun pemuda satukan nusantara!!

Leave A Reply

Your email address will not be published.