Hari Olah Raga Nasional 2018

Haornas 2018

0 7

Hari Olah Raga Nasional atau Haornas diperingati sejak tahun 1948. Setiap tahunnya, demi memberikan acara yang menghibur masyarakat, dipilihlah tempat dan tema yang berbeda-beda. Seperti tahun 2017, Magelang yang kala itu menjadi tuan rumah Haornas, mengusung tema ‘Olahraga Menyatukan Kita’. Hari Olah Raga Nasional jatuh pada tanggal 9 September dapat dijadikan sebagai momentum meningkatkan sportivitas olah raga di tanah air.

Tahun ini, giliran Ternate yang dipilih untuk menjadi tuan rumah Hari Olah Raga Nasional / Haornas, yang dimulai dari tanggal 7 September, hingga puncaknya 9 September. Tahun ini, temanya adalah “Ayo Olahraga Bangun Indonesia”.

Euforia Asian Games 2018 masih terasa sampai sekarang. Indonesia telah berhasil menjadi tuan rumah dan penyelenggara perhelatan akbar Benua Asia dengan sangat baik. Selain itu, kontingen Indonesia juga mencatatkan namanya pada klasemen empat besar perolehan medali.

Inasgoc (Indonesia Asian Games Organizing Committee) selaku penyelenggara Asian Games 2018 mendapat banyak apresiasi dari berbagai organisasi olahraga dunia, disamping itu terdapat salah cabang olah raga yang mampu mengangkat nama Indonesia dalam kancah olah raga Asia.

Peraih Medali Termuda di Asian Games 2018

Raden Ajeng Kartini, pahlawan yang melekat di hati kaum wanita Indonesia dan dimata dunia tentunya, sebagai pahlawan emansipasi wanita. Meski bergelar raden ajeng, tak sekalipun beliau peduli bahkan meminta dipanggil Kartini saja, beliau ingin menunjukkan bahwa semua orang sama, tidak dibedakan oleh pangkat, jabatan atau gelar bangsawan. Kartini menyuarakan perubahan, membawa perjuangan perempuan pada fase yang baru, tidak sekadar menuntut pengakuan namun juga mengklaim keberadaan wanita dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Nah, pada Hari Olah Raga Nasional saat ini kita bisa melihat kemajuan para wanita Indonesia dengan indikasi pekerjaan, jabatan, atau aktivitas yang notabene diduduki oleh kaum laki-laki sudah banyak yang diduduki juga oleh kaum wanita. Luar biasa kan, bisa dibilang pahlawan emansipasi zaman now..!!

Salah satunya nih potret perempuan Indonesia yang sudah menjadi sosok berprestasi sejak usia belia. Nyimas Bunga Cinta, gadis cilik 12 tahun yang menjadi atlet termuda Indonesia di Asian Games 2018. Kiprahnya melambung tinggi seiring dengan perolehan medali perunggu di ajang bergengsi yang telah melakukan close ceremony 2 September 2018 lalu.

Nyimas Bunga, menjadi Nyimas menjadi satunya-satunya skateboard berhijab yang meraih podium kemenangan di final skateboard putri. Kehadiran Bunga nyimas Cinta dengan hijabnya seakan mengubah mindset kebanyakan orang mengenai skateboard yang identik dengan kehidupan jalanan, lelaki bertato, dan ugal-ugalan. FYI aja sih, bahkan di Amerika Serikat yang notabene adalah negara asal olahraga ekstrim ini, skateboarder masih dicap sebagai perusuh karena kerap merusak fasilitas umum.

Nyimas Bunga mengikuti pertandingan Asian Games 2018 di dua kategori perlombaan yaitu yaitu Skateboard Women’s Park dan kelas Skateboard Women’s Street. Dan gadis cilik yang murah senyum ini berhasil menghadiahkan 1 medali perunggu untuk Indonesia dikategori Skateboard Women’s Street. Saat ini, Nyimas Bunga masih duduk di bangku SMPN 20 Kramat Jati Jakarta. Bakat Skateboardnya terasah dari kecil. Ia mulai berlatih di usia 8 tahun. Di usia 10 tahun, ia telah berhasil menjuarai Indonesia Urban Sport Festival 2016. Kala itu Bunga berhasil menguasai teknik kick flip untuk pertama kali

Gadis kelahiran 13 April 2006 ini sebagai skateboarder termuda yang meraih medali di pesta olahraga antar-bangsa di Asia. Prestasi gemilangnya itu menjadi kado terindah bagi ibundanya yang tepat pada tanggal 29 Agustus sedang berulang tahun, tepat seminggu sebelum peringatan Hari Olah Raga Nasional.

Bertanding dibawah terik matahari Palembang, Nyimas menunjukkan potensinya sebagai skateboarder berbakat dan bermental juara di nomor street (jalanan). Dengan menggunakan hijab warna putih, ia tampil percaya diri di final dengan sukses melakukan trik seperti fs kickflip over the ramp dan stalefish.

Trik tersebut cukup sulit untuk ukuran atlet belia, dan Nyimas akhirnya mendapatkan medali perunggu dengan perolehan 19,8 poin. Sedangkan peraih medali emas adalah Margielyn Didal dari Filpina dengan 30,4 poin dan kaya Isa dari jepang dengan 25,00 poin.

Meski berada di ranking 3, pencapaian ini sudah cukup bagus untuk Nyimas karena dua peraih medali lainnya merupakan atlet yang sudah punya jam terbang tinggi. Margelyn berumur 19 tahun dan Kaya Isa berumur 17 tahun.

Diusia yang maasih menginjak 12 tahun tersebut, menjadi peluang bagi generasi emas penerus bangsa ini untuk terus mengepakkan sayap,terus melatih skill agar semakin siap untuk mengikuti pertandingan-pertandingan selanjutnya. Dan Nyimas Bunga ini bisa jadi panutan dan motivasi gadis-gadis cilik Indonesia lainnya lho ya..bahwa berawal dari melatih bakat atau hobby yang kita sukai dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin akan menoreh prestasi gemilang dikemudian hari.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.