Cokronegoro, Bupati Ku dan Tarian Ku

0 188

GWSLur.id – Kabeh dulur Darjo wes podo ngerti dong nek Darjo iki punya banyak bentuk UKM, kuliner khas, hingga kesenian. Nah kesenian Sidoarjo ini selain menghibur kan pastinya masing-masing memiliki sejarah dan keunikan tersendiri. Dari sisi tari tradisional ae Darjo duwe Tari Bandeng Nener, Tari Udang Windu, dan Tari Banjar Kemuning. Nah ternyata ada lagi neh tari tradisional Sidoarjo yang mungkin kebanyakan dulur Darjo belum tahu banyak. Apakah itu? Kuy simak artikel e Lur~

Tari khas Sidoarjo seng GWSLur maksud yoiku Tari Cokronegoro Lur. Opo kowe tau krungu? Dadi Lur sejarah singkatnya adalah Tari Cokronegoro iki diciptakan bertepatan dengan hari jadi Sidoarjo pada tanggal 31 Januari tahun 1975. Tari Cokronegoro iki bermula dari permintaan Bupati Sidoarjo ke-13, yoiku Bapak Soewandi, untuk mengenang jasa Bupati Sidoarjo pertama banget, yoiku Bapak Cokronegoro iki Lur. Ceritane, Bapak Cokronegoro iki adalah sosok yang sangat berjasa hingga bisa membangun Sidoarjo ket jaman Hindia-Belanda (fyi, biyen jenenge jek Sidokare) hingga Sidoarjo yang berkembang pesat seperti sekarang.

Akhire Lur, Pak Soewandi iki maeng memanggil Bapak Munali Fatah, meminta tolong beliau agar diciptakan Tari Cokronegoro tersebut. Tujuan dan harapan lainnya yo agar Kabupaten Sidoarjo memiliki ciri khas tarian yang menggambarkan simbol kepemimpinan dan kepahlawanan seperti Bupati Cokronegoro, cek ga dilupakan pisan jasa-jasa beliau dalam membangun Sidoarjo Lur. Carane Pak Munali Fatah untuk menciptakan tarian ini juga tidak mudah karena baliau tidak tahu bagaimana sosok Bupati Cokronegoro. Akhirnya agar mendapat ilham dan penerangan untuk membuat tarian yang dapat menggambarkan dengan baik Bupati Cokronegoro, Pak Munali iki semedi di beberapa tempat lho. Belaiu sempet semedi nang barongan (pring-pring mburi omah beliau), di bawah pohon jambu rumah beliau, sampai rela gelap-gelapan di kamar. Setelah semedi iku maeng beliau merasa badannya gerak-gerak sendiri dan akhirnya setelah lama berpikir keras bagaimana caranya menyatukan gerakan tersebut, akhirnya jadi deh satu-kesatuan gerakan Tari Cokronegoro iki maeng. Ojo salah Lur, menurut sumber terpercaya, Pak Munali ini semedi saat dini hari lho, sekitar jam 12 malam hingga jam 3 dini hari lah. Suangar!

Setelah akhirnya menemukan gerakan tarian, beliau juga menentukan kostum, riasan, dan juga iringan lagu agar watak Pak Cokronegoro yang tegas, adil, bijaksana, dan berwibawa ini dapat tersampaikan dengan baik. Tata rias-nya hanya mempertebal bagian wajah saja Lur. Nah nek kostum yang dikenakan sederhana, yoiku bagian kepala memakai modang bercorak batik dengan pinggiran berwarna putih. Memakai baju lengan panjang hitam dengan strip kuning di bagian lengan plus sembong dari kain panjang yang bermotif rawan berwarna putih.  Trus yo gawe celana hitam ¾ dan berstrip kuning di pinggiran bawah. Perlengkapan e yo ono jenenge clangkreng atau nenggala yang berbentuk tombak panjang warna merah dengan ujungnya yang berbentuk ukiran angka 2 (dua).

Iringan Tari Cokronegoro iki yo menggunakan Gendhing Alas Kobong dan Gendhing Cokronegoro. Gerakan tarian iki yo iso dibagi menjadi 3 bagian Lur, bagian pendahuluan, isi, dan penutup. Di setiap gerakan Tari Cokronegoro iki mempunyai makna watak baik Pak Bupati Lur, dadi ancen ga asal mulai tekan gerakan e sampe property-ne pisan. Tarian ini biasanya dibawakan secara individu, tapi juga bisa dibawakan secara kelompok. Jenis e tarian iki adalah tarian watak yang berpola tradisional dan memiliki tema kepahlawanan. Durasine yo ga suwe kok, sekitar 10 menitan.

Nah dulur Darjo, itu tadi sekilas info tentang tarian khas Sidoarjo yang mungkin ga banyak orang tau yo. Semoga artikel ini bisa membantu untuk membuat kita semua makin bangga dan cinta Sidoarjo yo!

(hun)

Leave A Reply

Your email address will not be published.