10 Stasiun Kereta Api yang ada di Sidoarjo

0 1,728

GWS.id-Sidoarjo adalah kota yang memiliki 10 stasiun kereta api, jumlah ini menjadikan Sidoarjo sebagai Kabupaten dengan stasiun kereta api terbanyak di daerah DAOP 8 (Surabaya). Bagaimana bisa begitu? Sudah pada tau kan kalau Sidoarjo merupakan kota percabangan yang memiliki 2 jalur menuju ke barat dan ke timur? Nah, karena itulah Sidoarjo memiliki jumlah stasiun terbanyak di DAOP 8.

Jalur barat menghubungkan Surabaya dengan Jogja, atau Surabaya dengan Jakarta via Jogja. Stasiun yang dilewati pada jalur barat ini adalah Stasiun Tarik, Stasiun Kedinding, Stasiun Krian, Stasiun Boharan, dan Stasiun Sepanjang. Meskipun demikian, tidak semua kereta yang melintas berhenti di stasiun yang sudah disebutkan tadi, tergantung dari kelas keretanya juga. Yang pasti berhenti adalah kereta ekonomi saja, sedangkan kelas bisnis dan eksekutif tidak.

Baiklah, kita bahas satu per satu stasiun yang ada di Sidoarjo agar semua lebih paham <3

  1. Stasiun Tarik (TRK) merupakan stasiun kereta api kelas II yang terletak di Tarik, kecamatan Tarik, Sidoarjo. Stasiun yang terletak pada ketinggian +16 meter ini lokasinya paling barat di Kabupaten Sidoarjo. Stasiun ini cukup ramai karena terletak di dekat pusat Kecamatan Tarik, tepatnya di sebelah timur jalan raya Balongbendo-Tarik. Stasiun ini memiliki lima jalur aktif dengan jalur 2 sebagai sepur lurus arah Surabaya dan Mojokerto serta dari jalur 4 stasiun ini terdapat jalur kereta api menuju Sidoarjo via Tulangan. Jalur tersebut sempat dinonaktifkan sejak tahun 1972, namun kini diaktifkan kembali sebagai bagian dari relokasi rel ke arah barat akibat dari banjir lumpur panas Sidoarjo.

  1. Stasiun Kedinding (KDN) adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Kedinding, kecamatan Tarik, Sidoarjo. Stasiun yang terletak pada ketinggian +13 meter ini cukup mudah dijangkau karena terletak sekitar 2 km sebelah barat dari Jalan Raya Krian-Prambon-Mojosari, tepatnya di dekat di Pasar Desa Temu, Prambon, dan terhubung dengan jalan desa. Stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 3 sebagai sepur lurus. Di sebelah barat stasiun, terdapat sebuah rangka crane yang pada zaman dahulu berfungsi sebagai crane pengangkut untuk bongkar muat tebu dari kereta lori tebu ke gerbong barang kereta api. Dahulu juga ada rel lori tebu yang menghubungkan bagian barat stasiun dengan sebuah pabrik gula di daerah Watutulis yang berjarak 2,1 kilometer dari sebelah timur stasiun. Pabrik gula itu bernama “Pabrik Gula (PG) Watutulis”. Namun, pabrik gula tersebut kini sudah tidak menggunakan jasa angkutan lori tebu lagi, melainkan menggunakan armada truk pengangkut tebu. Hanya satu kereta api yang berhenti di stasiun ini, yaitu KA Ekonomi Lokal/KRD Kertosono.

  1. Stasiun Krian (KRN) adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Krian, kecamatan Krian, Sidoarjo. Stasiun yang terletak pada ketinggian +12 meter ini memiliki lima jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus, namun kini hanya jalur 1-3 saja yang sering digunakan. Dahulu dari stasiun ini ke arah barat, terdapat jalur kereta api menuju Ploso.

  1. Stasiun Boharan (BH) adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Keboharan, kecamatan Krian, Sidoarjo. Stasiun yang terletak pada ketinggian +10 meter ini dapat diakses dengan mudah karena terhubung dengan jalan pabrik yang terletak sekitar 1 km sebelah barat daya dari jalan layang Trosobo. Stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 3 sebagai sepur lurus. 
  2. Stasiun Sepanjang (SPJ) adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Wonocolo, kecamatan Taman, Sidoarjo. Stasiun yang terletak pada ketinggian +9 meter ini secara administratif terletak di sebelah barat daya wilayah Kelurahan Sepanjang. Stasiun ini mempunyai empat jalur kereta api dengan jalur 3 sebagai sepur lurus.

 

Selanjutnya adalah jalur timur yang menghubungkan Surabaya dengan Malang dan Surabaya dengan Banyuwangi. Stasiun yang ada dalam jalur ini adalah Stasiun Waru, Stasiun Gedangan, Stasiun Sidoarjo, Stasiun Tanggulangin, dan Stasiun Porong. Sama dengan jalur barat, di jalur timur juga tidak semua kereta berhenti di semua stasiun, hanya kereta ekonomi saja, sedangkan kereta bisnis dan eksekutif tidak.

 

  1. Stasiun Waru (WR) adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Kedungrejo, kecamatan Waru, Sidoarjo. Stasiun yang terletak pada ketinggian +5 meter ini lokasinya paling timur di Kabupaten Sidoarjo. Lokasi stasiun ini cukup strategis karena berada di jalur utama Surabaya-Sidoarjo dan juga sangat berdekatan dengan Terminal Utama Surabaya, yaitu Terminal Purabaya/Bungurasih. Stasiun ini memiliki empat jalur, dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, jalur 2 dan 3 untuk persilangan atau persusulan antar kereta api, serta jalur 4 yang sudah jarang digunakan. Dulu di jalur 3 dan 4 terdapat fasilitas peti kemas. Kereta angkutan peti kemas ini memiliki relasi Tanjung Priok-Kalimas-Waru pp dan hanya beroperasi dua hari sekali. Namun, karena akan dibangun frontage road di sebelah timur stasiun ini untuk memecah kepadatan arus lalu lintas di jalan raya utama Surabaya-Sidoarjo, maka sejak awal tahun 2015 fasilitas tersebut dipindahkan sepenuhnya ke Stasiun Kalimas, Surabaya. 
  2. Stasiun Gedangan (GDG)adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang berada di Gedangan, kecamatan Gedangan, Sidoarjo. Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 meter dan bersistem sinyal mekanik ini pada awalnya mempunyai tiga jalur rel kereta api, namun jalur 1 sudah dibongkar dan ditutupi paving sehingga kini tinggal 2 jalur saja (jalur 2 sebagai spoor 1 untuk persilangan atau persusulan antarkereta api dan jalur 3 sebagai spoor 2 atau sepur lurus), dan bekas jembatan sungai jalur 1 masih dapat dilihat di sebelah selatan stasiun. Uniknya, di bagian tengah emplasemen stasiun yang kini telah berperon cukup tinggi ini terdapat perlintasan sebidang dari Jalan Ketajen Raya, sehingga ketika ada kereta api yang berhenti di stasiun ini, sebagian rangkaian kereta menutupi jalan tersebut dan perlintasan harus tetap ditutup, tidak peduli berapa lama kereta berhenti hingga akhirnya kereta berangkat kembali dan tidak menutupi jalan tersebut lagi. 
  1. Stasiun Sidoarjo (SDA) adalah stasiun kereta api kelas I yang terletak di Lemahputro, Sidoarjo, Sidoarjo. Stasiun ini dilewati jalur kereta api menuju timur (Jember-Banyuwangi) dan jalur menuju Malang-Blitar. Stasiun yang terletak pada ketinggian +4 meter ini awalnya memiliki lima jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, namun jalur 5 sekarang sudah digusur untuk peron baru. Dari jalur 4, jalur yang menuju Stasiun Tarik diaktifkan kembali sebagai bagian dari relokasi jalur kereta api lintas timur menyusul semburan lumpur panas di Porong. Sebagai stasiun kelas I, hampir semua kereta api berhenti di stasiun ini. Hanya kereta api barang (ketel dan semen) saja yang melintas langsung/tidak berhenti. 
  2. Stasiun Tanggulangin (TGA) adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Kalitengah, kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, tepatnya bersebelahan dengan Jalan Raya Tanggulangin arah Kota Sidoarjo. Stasiun yang terletak pada ketinggian +6 meter ini awalnya memiliki empat jalur kereta api dengan jalur 2 sebagai sepur lurus dan tiga jalur lainnya untuk persilangan atau persusulan antarkereta api, namun kini jalur 4 sudah dibongkar. 
  3. Stasiun Porong (PR) adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Mindi, kecamatan Porong, Sidoarjo. Stasiun yang terletak pada ketinggian +6 meter ini letaknya paling selatan di Kabupaten Sidoarjo. Stasiun ini terletak persis di belakang Pasar Porong Lama yang telah diruntuhkan bangunannya (sekarang telah menjadi taman yang bernama Taman Apkasi) dan di dekat tanggul lumpur Lapindo. 

Ke arah selatan, setelah menyeberangi Kali Porong (sebelum tahun 1969), jalur kereta api bercabang dua: yang lurus (sebelah kiri) mengarah ke Bangil, sedangkan yang menikung (sebelah kanan) adalah jalur non aktif yang mengarah ke Mojokerto via Gempol dan Mojosari. Pada saat ini, bau lumpur panas yang menyengat, banjir saat musim hujan, dan bahkan lubernya lumpur panas terus menjadi ancaman yang sering dirasakan pada jalur antara stasiun ini dan Stasiun Tanggulangin.

Stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 1 sebagai sepur lurus, jalur 2 untuk persilangan dan persusulan antarkereta api, serta jalur 3 yang diaktifkan kembali sebagai sepur simpan untuk Komuter Surabaya-Porong (SuPor) dan mesin pecok yang ada pada saat rel di sekitar stasiun ini terendam banjir.

Ke arah timur stasiun ini, sebelum Stasiun Bangil, terdapat Stasiun Gununggangsir yang kini sudah tidak aktif karena lokasinya yang kurang strategis dan okupansi penumpang yang minim.

 

Dengan banyaknya stasiun dan dimiliki oleh Sidoarjo hal ini menggambarkan bahwa sistem transportasi di Sidoarjo sudah cukup baik meskipun masih perlu dilakukan banyak penyempurnaan disana-sini, selain itu dengan banyaknya stasiun di Sidoarjo memeberikan kemudahan bagi  warga Sidoarjo untuk melakukan perjalanan. (dnm)

 

Sumberdata : id.wikipedia.org

Leave A Reply

Your email address will not be published.